Gapai Haji Mabrur

Setiap orang yang meksanakan haji akan berharap agar memperoleh haji mabrur. Penyebutan istilah haji mabrur ini sekaligus menjadi indikator bahwa tidak semua orang yang melaksanakan haji dapat mencapai haji mabrur. Pendek kata, meskipun mereka menginginkan agar hajinya menjadi mabrur namun, keinginan itu tidak semuanya dapat tercapai.
Sesungguhnya bagaimanakah haji mabrur itu. Salah seorang Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’ Asqalani dalam kitab Fathul Bari , syarah Bukhori Muslim menukil pendapat ulama:
قَالَ اِبْن خَالَوَيْهِ : الْمَبْرُور الْمَقْبُول
“Ibnu Kholawaih berkata : Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh Alah SWT.” Pendapat lain yang dikuatkan oleh Imam Nawawi:
وَقَالَ غَيْره : الَّذِي لَا يُخَالِطهُ شَيْء مِنْ الْإِثْم ، وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيّ
“Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa”, atau haji yang diterima Allah SWT, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.
Selanjutnya oleh Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul Muslimin mengungkapkan bahwa: “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.
Pendapat lain dalam kitab fathul bari adalah
أَنَّهُ يَظْهَر بِآخِرِهِ فَإِنْ رَجَعَ خَيْرًا مِمَّا كَانَ عُرِفَ أَنَّهُ مَبْرُور
Haji Mabrur bisa tampak pada akhirnya, Jika sekembalinya ia menjadi lebih baik dari pada yang diketahui (selama ini) maka jelaslah hajinya mabrur. (Fathul Bari V 155)

” Berdasarkan rumusan yang diberikan oleh para Ulama di atas tentang pengertian haji mabrur ini, maka dapat kita simpulkan bahwa haji mambur adalah haji yang dapat disempurnakan segala hukum-hukum berdasarkan perintah Allah dan Rasulullah SAW. Sebuah predikat haji yang tidak mendatangkan perasaan riya’ bersih dari dosa senantiasa dibarengi dengan peningkatan amal-amal shalih, tidak ingin disanjung dan tidak melakukan perbuatan keji dan merusak.
Menurut Syekh Ali Ahmad Al Jarjawi, salah seorang ulama Al Azhar, dalam ibadah haji terdapat pendidikan moralitas dan mentalitas. Allah SWT berfirman,

     •             
”Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian yang lain) berikanlah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.” (QS Al Hajj [22]: 28)
Ayat di atas mengisyaratkan ke-satuan makna antara kepedulian terhadap ibadah dan sosial. Yang satu untuk Allah, lainnya untuk sesama. Di sinilah tampak keseimbangan. Jadi, makna mabrur ialah nilai yang diterima di sisi Allah dan mampu memberi implikasi sosial terhadap pelakunya.
Abdullah bin Mubarok, seorang ulama sufi, bersengaja untuk melak-sanakan ibadah haji, setelah segala persiapan dicukupkan dan pamitan pada para tetangga dan sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan beliau tak lupa memantau kondisi sosio-ekonomi masyarakat yang di lewatinya sehingga beliau tertinggal kafilahnya. Suatu hari dia melihat kuburan-kuburan banyak tergali dan melihat seorang ibu dan anaknya mengendap-endap sembunyi. Dia bertanya, ”Mengapa kuburan itu banyak tergali dan kamu berdua sembunyi ketakutan?”
”Kami yang membongkarnya karena kelaparan,” jawab mereka berdua penuh rasa takut. Mendengar pengakuan itu dia menangis dan seraya menyerahkan semua bekal hajinya pada mereka kemudian kembali ke kampungnya. Ketika kafilah haji lainnya kembali dari haji, mereka semua mengucapkan selamat pada Abdullah bin Mubarok, ”Kami melihat Anda melaksanakan haji di sana penuh khusyuk.”
Kisah di atas mengilustrasikan misi dan visi haji yang sebenarnya. Haji bukan sekadar ritual personal melainkan lebih berdimensikan sosial. Haji bukan semata gelar maupun predikat sosial. Ia adalah puncak kedewasaan mental-spiritual seorang manusia.
Haji mabrur adalah haji yang tak peduli simbol budaya kosmetik, individualistik, melainkan sebuah melainkan sebuah dorongan murni peningkatan kualitas kemanusiaan seseorang secara individu maupun sosial (ijtima’i).
Meskipun pada hakikatnya, bahwa hanya Allah lah yang menentukan dan mengetahui apakah diterima dan tidaknya haji yang kita tunaikan. Namun melalui penjelasan yang bersumber dari Rasulullah SAW, setidaknya menjadi penguat bagi kita untuk lebih berharap kepada Alah SWT agar ibadah haji yang kita tunaikan menjadi haji mabrur. Petunjuk Rasulullah Saw sebagai mana dijelaskan dalam hadis-Nya dalam menggapai haji mabrur antara lain:
Pertama, Tunaikanlah ibadah haji dengan benar-benar berangkat dari motivasi dan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Allah berfirman-Nya:

            •     
“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali melainkan untuk menyembah Allah SWT dan mengikhlaskan agama (semata-mata) karena Allah.” (QS. AL Bayyinah: 5)
Kedua, segala biaya dan nafkah yang digunakan untuk menunaikan ibadah haji haruslah benar-benar bersumber dari yang halal. Rasulullah SAW bersabda :

إذا خرج الحاجُّ حاجًّا بنفقةٍ طيبةٍ ووضع رجلَه فى الغَرْزِ فنادى لبيك ناداه منادٍ من السماءِ لبيك وسعديك زادُك حلالٌ وراحلتُك حلالٌ وحجُّك مبرورٌ غيرُ مأزورٍ وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رجلَه فى الغرز فنادى لبيك ناداه مَلَكٌ من السماءِ لا لبيك ولا سعديك زادُك حرامٌ ونفقتُك حرام وحجُّك غيرُ مبرورٍ (الطبرانى فى الأوسط عن أبى هريرة)

” Jika seseorang pergi Jika seseorang pergi menunaikan haji dengan biaya dari harta yang halal dan ia menaruhnya dalam pelana, kemudian diucapkannya, “Labbaikal laahumma labbaik ( ya Allah, inilah aku datang memenuhi panggilan-Mu). Maka berkata penyeru dari langit: “Allah menyambut dan menerima kedatanganmu dan semoga kamu berbahagia. Pembekalanmu halal, pengangkutanmu juga halal, maka hajimu mabrur, tidak dicampuri dosa.” Sebaliknya, jika ia pergi dengan harta yang haram, dan ia mengucapkan: “Labbaik”. Maka penyeru dari langit berseru: “Tidak diterima kunjunganmu dan engkau tidak berbahagia. Pembekalanmu haram, pembelanjaanmu juga haram, maka hajimu ma’zur (mendatangkan dosa) atau tidak diterima.” (HR. Tabrani).

Ketiga, Melakukan manasik hajinya dengan meneladani dan mempedomani manasik haji Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ لَعَلِّى لاَ أَرَاكُمْ بَعْدَ عَامِى هَذَا.
“Hendaklah kamu mengambil manasik hajimu dari aku, Boleh Jadi engkau tidak melihatku lagi stelah tahun ini.” (Sunan Baihaqi Kubro).
Keempat, Ibadah haji yang ditunaikan harus mampu memperbaiki akhlak dan tingkah laku Haji mabrur, menurut M. Quraish Shihab, ditandai dengan berbekasnya makna simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna-makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari. “Pakaian biasa” ditang galkan dan “pakaian ihram” dikenakan. Menanggalkan pakaian biasa berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menim bulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah kehadiran memenuhi panggilan Allah? Pertanyaannya, apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan? Bila masih ada, maka Anda sesungguhnya masih mengenakan pakaian biasa, belum menanggalkannya. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s