Membentengi Serangan Pemikiran Mantan Kiai NU

Masalah bid’ah kembali men-jadi permasalahan yang hangat bahkan cenderung menjadi panas. Terbukti dengan Maraknya buku-buku yang menyudutkan golongan NU dengan ritual
tahlilnya dan mengatakan amalannya adalah bid’ah seperti Buku : “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat & Dzikir Syirik”, “Mantan Kiai NU Meluruskan ritual-ritual Kiai Ahli Bid’ah yang Dianggap Sunnah”, “Mantan Kiai NU Membongkar praktek syirik”, “Mantan Kiai NU Bongkar habis kasidah syirik” dll semacamnya.

Meskipun terbit buku-buku bantahan nya seperti buku “Membongkar Kebo-hongan Buku Mantan Kiai NU Meng-gugat Shalawat & Dzikir Syirik” terbit-an Pengurus Cabang Lembaga Bahtsul Masail NU Jember akan tetapi buku-buku diatas lebih keras dan lantang serta menggema gaungnya sehingga meluruskan kembali perihal bid’ah kepada khalayak dan jamaah menjadi penting agar tidak ikut-ikutan arus “Mantan Kiai NU” di atas.

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya.

Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar binl Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebaik-baik bid’ah itu adalah hal ini”.
Sebagian dari perihal yang dianggap bid’ah adalah bertawassul dengan Nabi Muhammad saw. Bahkan dianggap syirik. Yang terdapat dalam diba’, burdah maupun kasidah lainnya. Seperti bacaan dalam burdah :
يَا رَبِّ بِالْمُصْـطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
Wahai Tuhan-ku, Dengan (wasilah) Nabi Muhammad yang terpilih, Sampaikan kami pada tujuan kami dan ampunilah dosa-dosa Kami yang telah lewat, wahai dzat yang maha luas kemurahannya.

Sebenarnya masalah tawassul telah terjadi sewaktu Rasul saw masih hidup dan setelah wafat. tawassul pada Rasu-lullah itu disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 64:

وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْظَلَمُوْااَنْفُسَهُمْ جَاءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوااللهَ وَاسْتَغْفَرَلَهُمُ الَّرسُوْلُ لَوْ جَدُوااللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً

“Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka meminta ampun kepada Allah dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, pasti mereka menjumpai Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang dhalim, disamping do’a mereka tetapi ada juga wasilah (do’a nya) Rasulullah SAW.

Soal tawassul seperti itu, disebutkan pula dalam tafsir Ibnu Katsir juz I; “Berkata Al-Imam Al-Hafidz As-Syekh Imaduddin Ibnu Katsir, menyebutkan segolongan ulama’ di antaranya As-Syekh Abu Manshur As-Shibagh dalam kitabnya As-Syaamil dari Al-Ataby; berkata: saya duduk di kuburan Nabi SAW maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman; Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka kemudian datang kepada mu dan mereka meminta ampun kepa-da Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang; dan saya telah datang kepadamu (kekuburan Rssulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilahmu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran
dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda:

يَاعَتَبِىُّ اْلحَِقْ اْلأَعْرَاِبىّ فَبَشِّرْهُ اَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَلَهُ.
Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

Dalam riwayat di atas dipaparkan bah-wa Ataby diampuni dosanya dengan tawassul kepada Nabi yang telah wafat. Riwayat di atas diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Idhoh halaman 485. Selanjutnya, diriwayatkan juga oleh Abu Muhammad Ibnu Quddamah dalam kitabnya Al-Mughni juz. III. Riwayat Al-Ataby ini banyak sekali diriwayatkan oleh para Ulama’ ter-kemuka.

Wasilah (perantara) artinya sesuatu yang menjadikan kita dekat kepada Allah SWT. Adapun tawassul sendiri berarti mendekatkan diri kepada Allah atau berdo’a kepada Allah dengan mempergunakan wasilah.
Allah berfirman :
يَااَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوااللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan carilah jalan (wasilah/perantara).”(QS Al-Maidah : 35) . Wallahu A’lam

3 responses to “Membentengi Serangan Pemikiran Mantan Kiai NU

  1. “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat & Dzikir Syirik”, “Mantan Kiai NU Meluruskan ritual-ritual Kiai Ahli Bid’ah yang Dianggap Sunnah”, “Mantan Kiai NU Membongkar praktek syirik”, “Mantan Kiai NU Bongkar habis kasidah syirik” Itulah b uku Mahrus ali yang harus di baca untuk koreksi diri agar bisa menilai apakah ajaran yang telah di pegangi ini benar lalu besok di akhirat bisa benar selamat atau masih di ragukan lalu kita bisa mencari dalil yang pas dan meneladani Rasulullah dengan sungguh> ini penting sekali sama dengan makan dan minum untuk tubuh kita dan akan menjawab seluruh keterangan itu , boleh juga membaca buku jawaban H Mahrus ali untuk buku LBM Jember

  2. Dari Abu Yazid Arraqasyi dari Muhammad bin Ruh bin yazid Al Basri berkata : bercerita kepadaku Ayyub Al Hilali lalu berkata : Seorang badui melakukan haji , ketika datang ke pintu masjid Rasulullah SAW, dia menderumkan ontanya , lalu di ikatnya .
    Kemudian dia masuk ke masjid Rasulullah SAW, lalu mendatangi kuburan, dan berhenti di arah wajah Rasulullah SAW, lalu berkata : Ayah dan ibuku sebagai tebusan untuk mu wahai Rasulullah ! , aku datang kepadamu dengan banyak dosa dan kekeliruan yang membikin berat aku . Aku mohon safaat dengan perantara kamu untuk ke Tuhanmu , karena Dia berfirman dalam kitab suciNya yang kokoh :
    وَ لَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا
    Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
    Lalu dia menghadap kepada orang banyak seraya berkata :
    يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ فِي الْتُرْبِ أَعْظُمُهُ فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ اْلقَاعُ وَ اْلأَكَمُ
    نَفْسِي اْلفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ فِيْهِ اْلعَفَافُ وَ فِيْهِ الْجُوْدُ وَ اْلكَرَمُ
    Wahai orang yang terbaik yang tulang – tulangnya terpendam di bumi ,
    Lantas lembah dan tanah undukan menjadi harum.
    Diriku tebusan untuk kuburan yang engkau berdiam padanya
    Di dalamnya kesucian , kedermawanan dan kemuliaan
    Syekh Muhammad Nashiruddin Al albani berkata : Ini adalah sanad lemah yang gelap , aku tidak tahu tentang Ayyub Al Hilali atau perawi sebelumnya .
    Abu Zaid Aaroqosyi di cantumkan oleh Adz dzahabi dalam kitab Al Muqtana fii sardil kuna 155/2 , tapi tidak di sebut namanya dan beliau menyatakan : Dia tidak dikenal . Kisah tsb adalah mungkar dan sangat buruk . Sudah cukup badui disitu tidak di kenal identitasnya . Sayangnya Ibnu Katsir menyebutnya lalu di sambut baik oleh orang – orang yang mementingkan diri sendiri , ahli bid`ah dan hawa nafsu . Imam Shobuni juga menyebutnya dalam kitab Mukhtashornya 410/1
    Kisah dalam tafsir Ibnu Katsir itu tidak di sandarkan kepada salah satu ahli hadis yang terkenal , tapi hanya di sandarkan kepada Al atbi yang tidak dikenal dan tiada yang menyebutnya kecuali dalam hikayah ini .

    وَهِيَ حِكَايَةٌ مُسْتَنْكَرَةٌ ، بَلْ بَاطِلَةٌ ، ِلمُخَالَفَتِهَا اْلكِتَابَ وَالسُّنَّةَ ، وَ لِذَلِكَ يَلْهَجُ بِهَا اْلمُبْتَدِعَةُ ، ِلأَنَّهَا تُجِيْزُ اْلاِسْتِغَاثَةَ بِالنَّبِي صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَطَلَبَ الشَّفَاعَةَ مِنْهُ بَعْدَ وَفَاتِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَبْطَلِ اْلبَاطِلِ ، كَمَا هُوَ مَعْلُوْمٌ ، وَقَدْ تَوَلَّى بَيَانَ ذَلِكَ شَيْخُ اِْلإسْلاَمِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي كُتُبِهِ وَ بِخَاصَّةٍ فِي ” التَّوَسُّلِ وَاْلوَسِيْلَةِ ” ، وَ قَدْ تَعَرَّضَ لِحِكَايَةِ الْعَتْبِي هَذِهِ بِاْلإِنْكَارِ ، فَلْيُرَاجِعْهُ مَنْ شَاءَ الْمَزِيْدَ مِنَ اْلمَعْرِفَةِ وَاْلعِلْمِ
    Kisah tsb adalah hikayat yang mungkar , bahkan keliru karena bertentangan dengan al qur`an dan hadis . karena itu ahli bid`ah senang dengan adanya hadis tsb , sebab hadis itu memperbolehkan minta tolong kepada Nabi SAW, minta safaat kepadanya setelah wafatnya . Ini termasuk paling keliru sebagaimana yang di ketahui . Syaikhul Islam Ibnu taimiyah dalam kitab – kitabnya , hususnya kitab Tawassul wal wasilah telah menjelaskan tentang hal itu , dan beliau sangat ingkar kepada kisah Al atbi itu . Bila ingin tambah ilmu dan pengetahuan , bacalah.
    Bacalah juga buku mantam kiyai NU atau buku Solusi tuntas karya H Mahrus ali akan tahu kebenaran orang yang berdoa langsung kepada Allah dan kekeliruan tawasul dengan mayat.

  3. Sebelum Jauh detil ke dalil-dalil, saya miris membaca sejarah wahabi dan penjelmaannya menjadi salafi .Siapa Muhammad bin Abdul Wahab, siapa Saud, apa peran inggris amerika yahudi, Simbul-simbul di Arab saudi dan kaitannya dengan uang satu Dolar (baca salafy indonesia) Terserah mau bilang apa, yang jelas hasil dari itu semua adalah dibuat seakan-akan paling benar dan hasil akhirnya adalah perselisihan dan pertentangan. Sekarang perilaku antara orang salafi di indonesia terhadap sesama muslim apakah menggambarkan akhlak Rosulullah ? renungi dulu baru belajar lagi. Telusuri terus salafi Wahabi sampai benar-benar faham dari mana dan untuk apa mereka ada. Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s