The Grass Over the Fence Always Looks Greener

Ada seorang lelaki dari desa (Badui) mengunjungi Kholi-fah Al-Mu’tashim. Setelah beberapa lama orang badui tadi menjadi orang dekat kholifah. Bahkan dari kedekatannya ia tidak perlu lagi meminta ijin untuk masuk istana dan bertemu para permaisuri. Melihat keakraban lelaki itu dengan kholifah, Seorang wazir (patih) dengki akan kedudukannya dan berkata “aku harus menyingkirkan orang itu dari kholifah, kalau tidak maka sang kholifah akan menjauh dariku”. Mulailah ia berfikir bagaimana cara menyingkirkannya dari istana.

Wazir menemui orang badui tadi dan bergaul baik dengannya. Suatu hari, wazir mengajak badui mampir ke rumahnya sebelum sampai ke istana. Wazir sengaja menjamunya dengan berbagai hidangan yang penuh dengan bumbu bawang. Usai jamuan, wazir berkata: jangan dekat-dekat kepada kholifah, karena beliau tidak suka bau bawang. Si wazir segera menemui kholifah dan berkata, “Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang Tuan. Ia juga berkata bahwa bau mulut tuan busuk sekali.”
Selang beberapa saat, datanglah sang badui menemui kholifah. Sewaktu berjabatan tangan dengan kholifah, ia menutup mulutnya dengan lengan bajunya agar kholifah tidak mencium bau mulutnya.
Kholifahpun berkata dalam hatinya “Rupanya benar perkataan wazir, ia benar-benar menganggap mulutku bau”. Setelah merasa waktu berkunjungnya sudah cukup, ia kemudian pamit kepada kholifah. Kholifah berkata, “Serahkanlah surat ini kepada fulan dan suruhlah ia membalasnya.” Surat itu tertutup rapat dan didalamnya tertulis :
ِإذَا وَصَلَ إِلَيْكَ كِتَابِي هَذَا فَاضْرِبْ رَقَبَةَ حَامِلِهِ
“Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka bunuhlah orang yang membawa-nya”. Badui tadi keluar membawa surat kholifah. Di tengah jalan ia dihadang oleh wazir, si pendengki. “Apa yang kamu bawa?” tanyanya. Badui menjawab :Ini Surat kholifah untuk fulan. Saya diperintah untuk mengirimkannya”.

Si wazir kemudian meminta surat tadi dan menawarkan diri untuk mengirim-kannya dan sebagai gantinya ia memberi badui tadi uang sebesar 2000 dinar. Si wazir mengira bahwa surat itu adalah surat pemberian hadiah. Badui berkata : Baiklah kalau begitu, tuan wazir lebih pantas untuk mengirim surat raja ini.

Wazirpun segera berangkat dan setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada si fulan. Dan seperti

amanat raja, si wazirpun langsung dibunuh.Keesokan harinya, lelaki badui itu datang sebagaimana biasa. Kholifah pun terheran-heran melihatnya masih hidup dan bertanya tentang surat itu. Iapun menjawab bahwa yang mem bawa surat itu adalah wazir. Kholifah lalu bertanya tentang perbuatannya menutup mulut saat bertemu sang kholifah. Sang badui menjawabnya seperti cerita diatas.

Mendengar jalannya cerita, tahulah kholifah bahwa wazir telah dengki kepada sahabatnya, badui. Dan berkata “Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”

Hasud seperti di atas sangatlah berbahaya. Pertama, bermula dari ketidaksenangan terhadap kebahagiaan seseorang, biasanya hasud lantas diiringi dengan keinginan mencelaka-kan orang tersebut. Kedua, ia merupakan serangan sepihak, tanpa orang yang dihasud tahu kapan dan dari mana asalnya serangan. Serangan sepihak seperti ini tentu lebih bahaya, karena pihak yang diserang tidak punya persiapan untuk balas melawan atau bertahan. Serangan di sini tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, tapi bisa juga berujud fitnah. Ketiga, di samping berbahaya bagi orang lain, hasud adalah sumber kesengsaraan bagi diri penghasud. Karena itulah dalam surat al-Falaq, Allah memerintah Nabi Muhammad untuk berlindung dari tindakan penghasud. “Min Syarri Hasidin Idza Hasad”

samping berbahaya bagi orang lain, hasud adalah sumber kesengsaraan bagi diri penghasud. Karena itulah dalam surat al-Falaq, Allah memerintah Nabi Muhammad untuk berlindung dari tindakan penghasud. “Min Syarri Hasidin Idza Hasad”

Dalam Hadits Qudsy, Allah berfirman:
الحَاسِدُ عَدُوُّ نِعْمَتِي ، مُتَسَخِّطٌ لِفِعْلِي ، غَيْرُ رَاضٍ بِقِسْمَتِي الَّتيِ قَسَمْتُ لِعِبَادِيْ
Orang yang hasud adalah musuh nikmat-Ku, tidak senang akan per buatan-Ku, tidak rela akan ketentuan bagian yang telah Kuberikan kepada hamba-hamba-Ku.

Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah olehmu semua kedengkian, sebab ke-dengkian itu memakan segala kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang kering.” Ini artinya, kebaikan-ke-baikan yang kita lakukan tidak ada arti-nya jika kita masih suka menghasud.

Lebih jauh dari itu Rasul menyatakan :
لاَ يَجْتَمِعُ فِي جَوْفِ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ ، وَفَيْحُ جَهَنَّمَ ، وَلاَ يَجْتَمِعُ فِي

جَوْفِ عَبْدٍ : الإِيْمَانُ وَالْحَسَدُ (صحيح ابن حبان عن أبي هريرة رضي الله عنه)
Tidaklah mungkin bisa berkumpul dalam perut seorang mukmin antara debu dijalan Allah dan mendidihnya neraka jahannam. Dan tidaklah bisa berkumpul dalam perut seorang mukmin antara iman dan hasud.

Hasud berasal dari iblis. Ketika Allah menempatkan Adam dan Hawa di surga serta memberi anugerah kenik-matan dan menerima penghormatan dari semua penghuni surga. Iblis tak ikhlas menerima kehendak Itu karenanya, iblis dengan segala cara berusaha menjatuhkan Adam dan Hawa beserta anak cucunya yaitu kita semua.

Iblis adalah musuh kita yang nyata maka jadikanlah ia musuh. Janganlah kita terperangkap oleh jerat dan jaring yang ditebar iblis. Lawanlah iblis dengan perbuatan baik. Rasul memerintahkan jika kita melihat kenikmatan yg dimiliki orang lain agar segera berdoa memohonkan barokah baginya. Sadarlah “the grass over the fence always looks greener” (rumput di ladang orang lain selalu kelihatan lebih hijau).  Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s