Membentengi Serangan mantan Kyai NU Bag.3

Perlu diketahui bahwa defi-nisi operasional Tahlil/ maulid adalah membaca ayat Quran (Yaasin dan se-bagainya) kemudian mem-baca Laa ila ha illa Allah, Tasbih dan Takbir, kemudi-
an kita membaca riwayat Nabi saw, sholawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhamad saw. Setelah itu kita berdoa bersama pada Allah SWT, untuk roh-roh Anbiya (para Nabi-nabi), ulama-ulama dan semua saudara-saudara kita muslimin yang telah meninggal agar diampunkan dosa mereka, dinaikkan derajat mereka di surga dan rahmat Allah SWT agar selalu mengiringi mereka. Kemudian kita berdoa pada Ilahi agar amalan-amalan, rahasia ilmu dan kele-bihan agama yang dikaruniakan oleh Allah SWT pada mereka waktu masih hidup, semuanya itu agar Allah meng-karuniakan juga pada kita yang masih hidup ini. Setelah itu dikeluarkan hidangan-hidangan, menurut kemam-puan dan kerelaan masing-masing, untuk para hadirin. Tujuan hidangan ini tidak lain agar menyemarakkan serta menggembirakan para hadirin serta tidak ada paksaan dalam hal ini.

Dalil Mengenai Majelis dzikir baik dari Al-qur’an maupun hadits sudah banyak Disebutkan pada edisi sebelumnya.

Sungguh disayangkan pernyataan Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Bin Baz yang dikutip diberbagai media yang mengata-kan bahwa pada majlis peringatan maulid Nabi ataupun tahlil tersebut terdapat berkumpulnya lelaki dan wanita-wanita yang bukan muhrim sehingga itu semua adalah mungkar. Dan di dalam majlis tadi banyak hal-hal mungkar dan haram dijalankan oleh kaum muslimin tersebut diantaranya: minum khamar, main judi, minum ganja dan sebagainya. Ini fitnah yang membuat kaum muslimin pecah dan saling benci membenci atau cela mencela satu sama lain.

Di majlis maulid/tahlil manakah yang ia maksudkan? Dan Syeikh ini mudah sekali menulis kata-kata bahwa majlis-majlis tersebut mungkar dan sebagainya dengan berdalil pada ayat Ilahi dan hadits hadits nabi SAW yang tidak tepat sekali untuk hal tersebut. Rupanya dia memahami ayat Ilahi, hadits-hadits dalam tektsnya saja tapi bukan maknanya.

Sayyid Quraish Shihab menerangkan bahwa ajaran hukum Islam ada 2 macam haram; Pertama: haram karena zatnya, umpama babi itu haram dimakan, karena zat daging babi itu sendiri najis dan haram, zinapun demikian. Kedua: haram karena dia dapat mengantarkan ke sesuatu yang haram karena zatnya. Umpamanya: berkumpulnya dua orang berlawanan jenis di satu tempat terpi-sah dari khalayak ramai (berduaan saja) adalah haram, ini diharamkan karena dapat mengantarkan keperzinaan.

Sedangkan berkumpulnya banyak orang pria dan wanita dalam satu majlis terbuka, umpama dalam majlis peri-ngatan keagamaan atau lainnya, dimajlis terbuka ini tidak mungkin mengantar kan perzinaan, apalagi tempat duduk mereka terpisah. Dengan demikian hal tersebut tidak dinilai sebagai sesuatu yang haram atau terlarang dalam agama. Umpama di majlis tersebut ada terjadi orang yang berbuat maksiat atau perbuatan mungkar maka orang itulah yang bertanggung jawab pada Allah SWT, jadi bukan majlis dzikirnya yang harus dilarang atau diharamkan karena perbuatan orang yang maksiat tersebut. Kalau orang melarang majlis tersebut dengan alasan karena di sana bisa orang berbuat maksiat atau mungkar, maka itu semua tidak bisa dibuat sebagai dalil untuk melarangnya!

Satu contoh Ibadah Thawaf (baik untuk tahiyyatil masjid maupun pada waktu musim haji atau umrah), disini ribuan orang baik lelaki dan wanita campur jadi satu. Malah ditempat ini sering terjadi pencurian, tangan-tangan jahil yang memegang aurat wanita dan sebagainya. Bagaimana pendapat Syeikh dan pengikutnya tentang thawaf ini, apakah beliau juga berani menge-cam mungkar atau haram karena bercampurnya lelaki dan wanita? Dan apakah ibadah thawaf ini juga harus ditutup karena adanya pencuri atau tangan-tangan jahil yang meraba aurat wanita di tempat thawaf tersebut?

Pada masa Rasul SAW, kaum wanita pernah ikut bahu membahu dan bekerja sama dengan kaum pria dalam berbagai aktivitas. Imam Bukhori dalam kitab haditsnya menjelaskan betapa kaum wanita terlibat dalam pengobatan para korban perang, atau ikut dalam expedisi perang di laut. Umar bin Khattab ra mengangkat Al Syifa’-seorang wanita yang pandai menulis untuk mengurus pasar di Madinah, yang sudah tentu di sana bercampur lelaki dan wanita!!

Dari uraian singkat diatas, diketahui bahwa didalam memahami Al-quran dan hadits diperlukan pemahaman sejarah dan metode pengambilan hukumnya. Jika tidak ia akan mudah Menuduh golongan lain sesat sementa-ra dia sendiri congkak dan tidak menyadari kesesatannya. Berikut Ini contoh kecil perdebatan jama’ah tabligh (JT) dengan salah orang NU,:
”anda muslim kan, anda setuju kalau perempuan jadi presiden”?
“setuju saja, asal dia mampu, memang kenapa”? “lho, anda ini gimana, islam mengharamkan presiden perempuan ada hadisnya kalau perempuan jadi pemimpin maka rusaklah negara.”
“oo.. begitu ya. jadi menurut bapak bagaimana cara kita menjalankan hadis nabi secara benar”? “harus apa adanya, gimana di dalam hadis ya yang begitu itu kita jalankan, sami’na wa atha’na. saya dengar saya taat. gak boleh diubah-ubah, jangan di bolak-balik maknanya!” “oo.. jadi harus apa adanya?” “iyalah!” “bapak pernah tau gak ada hadis yang sama sahihnya dengan hadis pelarangan pemimpin perempuan?” apa tuh?”
“al-aimmah minal quraisy, pemimpin itu haruslah berasal dari suku quraisy. kalau menurut hadis ini hanya orang arab dari suku quraisy yang boleh jadi presiden. laki-laki pun kalau bukan suku quraisy gak boleh jadi presiden di indonesia pak.. kita harus impor dari arab.”
“yaah, situasinya kan udah beda, kita harus lihat keadaannya sekarang dong..”
“tapi tadi bapak bilang hadis harus dijalankan apa adanya, gak boleh dibolak-balik pemahamannya?”
Jamaah Tablig : ??!!!$#@$^%^$#$#!!!!!
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s