Siapkah Anda Menjadi Orang Kaya?

Ada yang bergumam, “Sungguh tidak adil, kenapa engkau jadikan aku miskin ya Allah sementara tetanggaku si a itu engkau jadikan ia kaya raya….” Mengapa harus aku yang miskin ya Allah….

Munajat diatas mungkin saja terjadi disadari atau tidak oleh banyak orang, seakan akan ia tidak terima dengan apa-apa yang telah ditetapkan Allah swt. Mengapa Allah berbuat demikian? Benarkah Allah tidak adil bahkan membenci kita?

Allah berfirman :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ ( الشورى : 27)

“Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” [42.27]

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, kalau saja Allah memberikan mereka rezeki yang melebihi kebutuhan mereka, pastilah hal itu akan membawa mereka untuk berbuat melampaui batas dan bertindak sewenang-wenang, sebagian mereka ter hadap sebagian yang lain dengan penuh kekejian dan kecongkakan. Allah mem berikan rezeki kepada mereka dari apa yang telah Dia pilihkan untuk mereka, sesuatu yang mengandung kemaslaha-tan untuk mereka. Maka Dia mem berikan kekayaan kepada orang yang berhak untuk mendapat kekayaan dan akan memberikan kemiskinan kepada orang yang berhak untuk mendapatkan nya.Tentu itu semua dengan ketetapan dan ketentuan. Dan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita adalah yang terbaik. Sehingga sebaik-baik harta bukanlah yang melimpah ruah akan tetapi sebagaimana dinukil dari qatadah ia mengatakan :

خَيْرُ العَيْشِ مَا لاَ يُلْهِيْكَ وَلاَ يُطْغِيْكَ

Sebaik-baik Penghidupan (Harta) adalah yang tidak menjadikanmu lalai dan melampaui batas. (Maqalah)

Mungkin kita belum juga mendapatkan rezeki yang melimpah karena kita memang belum berhak untuk kaya. Mungkin kita belum siap menjadi kaya, karena bisa saja jika kita mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari yang kita miliki sekarang, justru akan membuat kita melampaui batas, berbuat maksiat, congkak, dan menjauhkan diri kita kepada Allah. Mungkin inilah yang dikehendaki Allah dalam sebuah hadits qudsy disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir:

“إن من عبادي لمن لا يصلحه إلا الغنى ، ولو أفقرته لأفسدت عليه دينه، وإن من عبادي لمن لا يصلحه إلا الفقر، ولو أغنيته لأفسدت عليه دينه”

Sesungguhnya diantara hamba-hamba ku terdapat orang yang tidak menjadi kan kebaikannya kecuali kekayaan, sehingga kalau aku jadikan ia melarat maka berarti aku telah merusak agamanya. Dan Sesungguhnya diantara hamba-hambaku terdapat orang yang tidak menjadikan kebaikannya kecuali kemiskinan, Seandainya aku jadikan ia kaya raya maka aku telah merusakkan agamanya.

Jika menurut Robert T Kiyosaki, untuk menjadi kaya, langkah awal setelah melek finansial ialah dengan memperluas realitas (kapasitas) kita. Kapasitas yang dimaksud oleh Robert ialah kapasitas pemikiran. Tetapi ternyata, bukan hanya kapasitas pemikiran yang perlu kita perbesar, tetapi juga kapasitas ruhiah kita. Kita harus terus meningkatkan kapasitas ruhiah kita sehingga kita siap untuk diberikan rezeki yang lebih banyak tanpa harus melampau batas atau kita berhak menjadi orang kaya.

Tanpa bekal itu semua, maka orang yang diberikan kekayaan oleh Allah layaknya Qarun. Ia dikaruniai Allah, harta dan perbendaharaan yang melimpah ruah. Namun Ia mabuk dan terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan. Semua itu membuatnya buta dari dari nasihat-nasihat orang mukmin. Itu semua menjadi Fitnah dan Cobaan bahkan Istidrooj.

Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat harta kekayaan dan meminta nya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat, kebaikan dan hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”

Orang–orang fakir yang silau akan harta benda mereka berkata, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun;sesungguh nya ia benar-benar mempunyai keber-untungan yang besar.”

Lalu orang orang mukmin menegor mereka , “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh….”

Tatkala bencana menimpa Qarun dan hartanya, barulah mereka yang silau harta tadi mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Marilah kita melihat kedalam diri kita, instropeksi diri sejauh mana kapasitas ruhiyyah kita. Marilah kita teliti niat kita dalam mencari rezeki, sidahkah niat kita ikhlas? Sudahkah niat kita hanya mencari keridhaan Allah, sudahkah niat kita mencari rezeki untuk menu-naikan kewajiban menafkahi keluarga? Sudah kah niat kita mencari rezeki untuk menegakkan kalimat tauhid di muka bumi? Mungkin saja, kita mencari rezeki agar mendapatkan penghorma- tan dari orang lain. Mungkin saja, kita mencari rezeki untuk bersikap som-bong terhadap orang lain? Mungkin saja, kita mencari rezeki untuk melakukan kemaksiatan? Marilah kita berlindung kepada Allah dari per buatan seperti ini. Cukuplah Kisah Qarun sebagai pelajaran bagi kita. n

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s