TOLERANSI KUNCI PERSATUAN

Ada sebuah statement indah dari An war Sadat, Presiden Mesir pasca Jamal Abdul Nasser, yang ditembak mati oleh kaum separatis. Dia mengatakan sebagaimana didokumentasikan dalam memoir Jihan Sadat (sang istri ter cintanya), “Bagaimana mungkin aku akan menegakkan demokrasi, kalau ‘musuh-musuh’ yang mengkritikku, aku penjara kan?”

Statement ini menegaskan bahwa penegakan demokrasi meniscayakan adanya budaya toleransi. Demokrasi dan toleransi laksana pohon dan akarnya. Sang pohon tak mungkin akan berkembang manakala tidak ditopang oleh akar. Lebih dari itu, tanpa eksistensi akar sang pohon tidak pernah akan menikmati indahnya kehidupan. la pasti mati.

Nah, kini pertanyaannya, sudahkah toleransi menjadi budaya dalam keseharian kita? Tampaknya tidak gampang menjawab pertanyaan tersebut dengan cermat. Secara umum, budaya tersebut baru sebatas angan-angan belaka. Hal ini barangkali disebabkan, ada sebagian dari kita yang memang sudah memiliki dan mencoba menerap kan budaya tersebut, dan banyak dari kita yang sama sekali belum memiliki apalagi mencobanya. Kelompok yang kedua ini tentunya menjadi persoalan tersendiri bagi penegakan demokrasi yang kita canangkan.

Sulit menjawab pertanyan di atas dengan pasti, karena memang banyak persoalan yang melingkupinya. Yang pasti, di negara yang pluralistic semacam Indonesia, seharusnya budaya toleransi justru gampang tumbuh-berkembang. Karena pluralistik menis-cayakan banyaknya perbedaan dalam segala hal, perbedaan kultur, bahasa, sikap, pun kepentingan dan pemikiran. Tapi bila kita mau bertanya jujur, “Apa yang terjadi dengan kita?” Kita masih sangat sulit menerapkan budaya tersebut.

Kenapa budaya toleransi sulit di wujudkan? Ada asumsi bahwa semakin kita memegang teguh atau menganggap own-opinion (pendapat sendiri) sebagai ‘yang paling’, maka kita cenderung semakin fanatis. Semakin fanatis, maka cenderung semakin intolerans dan ending-nya akan selalu menyalahkan pendapat lain yang berbeda. Pun akhirnya, kita akan mengalami kerisau-an-kerisauan manakala bermunculan pendapat-pendapat lain di luar diri kita. Dan sikap seperti ini haram terjadi di tengah-tengah budaya demokrasi.

Kita harus menghargai semua pendapat atau wacana yang berkembang sebagai sebuah hasil kreasi positif dari anak manusia. Seandainya kita merasa sesuai dan cocok dengan gagasan tersebut, silahkan diikuti. Kalaupun kita menolak nya karena tidak setuju, maka kita harus menolaknya dengan cara-cara yang arif dan dewasa.

Sebagai proses pembelajaran awal, barangkali kita perlu merenungi budaya toleransi yang dilakukan oleh para imam mazhab, terutama mazhab fikih. Hal ini karena budaya toleransi di antara mereka sudah sedemikian kental nya. Mereka acapkali ber seberangan secara pemikiran, tetapi toh hubungan keakraban di antara mereka te’tap terjaga dengan harmonis. Tanpa pernah ada perseteruan atau saling mengancam satu sama lain. Itu tak lain karena sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan di antara mereka sudah tinggi. Mereka betul-betul menjunjung tinggi konsep kemerdekaan dalarn berpikir dan berkreasi. Mereka tidak pernah saling menyalahkan satu sama lain, karena mereka berprinsip bahwa siapa pun berhak berpendapat dan mempunyai pemikiran berbeda.

Apa sebenarnya poin paling penting yang menyebabkan budaya toleransi di kalangan mereka terjaga? Tampaknya, mereka memegang prinsip yang sama, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Imam Syafi’i (w. 204 H). Beliau mengatakan,
رأيي صواب يحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب
“Ra’yi shawab yahtamil al-khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ yahtami al-shawab (Pendapat yang kita yakini benar, mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain yang kita duga salah, mengandung kemungkinan benar).”

Prinsip seperti inilah yang menjadi acuan keharmonisan di antara mereka. Mereka merasa tidak berhak menyalah kan pendapat orang lain dengan meng klaim pendapatnya sendiri yang benar. Semua merupakan hasil pemikiran manusia yang terbatas. Mereka tidak yakin pendapat mana yang benar, mana yang salah, salah semua, atau justru benar sernua. Hal ini dilakukan guna menjaga sikap negatif su’udhan.

Imam Malik (w. 179 H) pernah me-ngatakan bahwa, “Manakala kamu menemukan pendapatku keliru. maka tinggalkan ia dan buanglah jauh-jauh. Dan manakala kamu menemukan pendapatku benar maka ikutilah apa yang aku ikuti. Jangan mengikuti aku.” Ini artinya bahwa beliau, yang nota bene pemikir besar tidak pernah memuliakkan pendapatnya sebagai yang benar. Lebih dari itu beliau tidak pernah memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya, kendati pendapat itu nyata-nyata benar. Beliau sadar bahwa semua itu hanyalah sebuah tawaran gagasan. Oleh sebab itu, betapa sering nya kita melihat mereka berseberangan pendapat, Namun hubungan harmonis antara mereka tidak terganggu sama sekali. Imam Syafi’i acapkali berbeda pemikiran dengan Imam Malik (guru nya), toh Imam Syafi’i tetap setia sebagai makmum dalam jamaah Imam Malik. Begitu pula dengan imam-imam yang lain.

Sebenarnya kalau kita (umat Islam) mau jujur, penghormatan terhadap per bedaan itu sangat dijunjung tinggi dalam tradisi fikih. Kita melihat banyak sekali kitab-kitab fikih perbandingan yang ditulis secara khusus untuk meng-ulas tentang perbedaan-perbedaan itu. Sebut saja misalnya, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-‘Arba’ah. karya Abdur rahman al-Jazairi, Bidayah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd dan banyak yang lain. Penulisan kitab-kitab itu antara lain diniatkan supaya kita dapat memahami kenyataan adanya perbedaan-perbedaan itu dengan penuh lapang dada. Oleh karena itu, bagi kita yang masih setia mengikuti pemikiran-pemikiran para imam mazhab, sebenarnya kita telah diberi pelajaran berharga, bagaimana mengemas dan mengelola perbedaan itu dalam bingkai saling menghormati satu sama lain. 
________

*) Hafid Nur Hamzah adalah santri STIKK AN-NUR 2 Prog. D2 asal banjarnegara, Jawa Tengah dan peserta program perkuliahan Khusus Pesantren Fak.Peternakan UNISMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s