Nasehat GUS untuk Semua santri…

gusbariSantriku…Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya. beberapa  tahun sudah kalian menimba ilmu di pondok. Janganlah pernah puas denga ilmu yang kalian dapatkan, karena ilmu itu bagai lautan tak bertepi, semakin kita ke tengah semakin kita merasa jauh untuk sampai ke tepian. janganlah sombong, diatas langit masih ada langit, fauqa kulli dzi ilm aliim.

Santri…Segala sesuatu punya zakat dan zakatnya ilmu dalah mengajar. Dimanapun nantinya kau tinggal dan apapun profesi kau lakoni janganlah lupa untuk mengajarkan ilmu agama yang kau dapatkan.

Santriku…kalian sekarang menuju dunia amal, maka landasilah amal kalian dengan ilmu yang telah kau dapatkan. Jadilah orang yang Amilun bi ilmihi dan alimun bi amalihi.

Santriku…Sadarilah setiap orang yang hidup punya masalah, sebab kita lahir kedua saja adalah masalah. Masalah bukan untuk di hindari akan tetapi dihadapi dan diselesaikan. Disitulah nilai pahala amal kita. Boleh jadi jika kita menghidar dari permasalahan, di jalan lain yang kita pilih ada masalah yang yang lebih besar.

Santriku…Kehidupan ini layaknya asam garam yang kalau langsung kau makan akan terasa tidak enak. Tugas kalian adalah bagaimana membuatnya enak, bisa saja kau jadikan sayur asam atau soto yang sedap sesuai seleramu. Jadikanlah pahitnya kehidupan menjadi manis dengan ilmu dan amal yang kau miliki.

Santriku…Suatu saat, datanglah seorang santri yang sedang dirundung banyak masalah, ke rumah Kyainya. Ia bercerita pahit getir kedupannya. Kyai hanya mendengarkannya dengan seksama. Kyai lalu mengambil segenggam garam, dan meminta santrinya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya!” ujar Kyai itu.
“Asiiin.Sekali Kyai,” jawab santri, sambil meludah ke samping.  Kyai tersenyum lebar. Kemudian ia mengajak santri ini, untuk berjalan menuju kolam yang begitu jernih tak jauh dari Ndalem. Kyai memerintahkan santri tadi menuangkan air garam tadi ke kolam. Beberapa saat kemudian, Kyai menyuruhnya untuk mengambil segelas air kolam dan meminumnya. Kyai: Bagaimana Rasanya?.  “Segar,” sahut santri. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya kyai. “Tidak,” jawab santri.  Dengan bijak Kyai itu menepuk-nepuk punggung muridnya dan mengajaknya duduk bersebelahan di teras musholla di samping kolam itu. “anakku, dengarlah! Pahit getirnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Karena Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana kolam bahkan telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Santriku…Kau tak akan bisa melawan syetan, jangankan kakaknya syetan, anak syetanpun tidak bisa kau lawan. Bagaimana mau melawan sesuatu yang tidak bisa kita lihat sedangkan dia terus mengawasi kita. Tidak ada jalan keluar kecuali kau selalu berzikir. Karena sesungguhnya yang ditakuti syetan itu cuma Allah semata.

Santriku…Hati-hatilah akan 3 hal yaitu : Harta, Tahta dan Wanita, karena hampir semua penempuh jalan kebenaran terpeleset karena tiga hal tersebut. Syetan masuk kepada hal yang menyenangkan. Hindarilah sifat ingin senang, ingin dipandang dan ingin menang agar kamu selamat dunia dan akhirat.

Santriku…Janganlah lupa untuk berbakti kepada kedua orangtua, Jika kau menemukan kesulitan dan problem dalam hidupmu, jangan lupa untuk minta doa kepadanya. Sebab “Dua’ul walid li waladihi ka du’ain nabiy li ummatihi”. Tetaplah kau jadi anak yang berbakti kepada keduanya, menghormati guru dan mengenang jasa pondok ini. Kalau bukan kalian, siapa lagi yang akan peduli kepada nasib pondok ini.

Santriku…Tiada gading yang tak retak, Tiada manusia yang sempurna, begitu pula saya selaku ketua STIKK sekaligus ustadz kalian. Pastilah banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Jangan Lupa doa setelah setiap ba’da Sholat untuk para Masyayikh pondokmu…

Malang, 06 juni 2009

Fathul Bari, SS., M.Ag

One response to “Nasehat GUS untuk Semua santri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s