Memilih Pemimpin, dalam sejarah islam

Alhamdulillah, Bangsa indonesia kemarin telah sukses menunaikan hajat besar untuk pemilihan presi-den yang demokratis. Namun pemilihan pemimpin seperti bukan lah pertama kali kita lakukan, namun semenjak islam bercokol dijagat ini, islam telah mewariskan tata cara memilih pemimpin secara demokratis.
Bermula dari hadits Nabi :
كلكم راع وكلكم مسئول عن راعييته
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan bertang-gung jawab atas apa yang di pimpin-nya.
Pemahaman inilah yang dipahami oleh shahabat-shahabat Rasulullah yang pernah menjadi Khalifah sete-lah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bahwa tampuk dan tugas kepemim-pinan adalah amanat yang sangat besar yang harus dilaksanakan dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt kelak. Sehingga menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang amanah, taat, serta kuat yang telah mampu mensejah-terakan dan memajukan peradaban Islam pada masanya.
Allah tidak menjelaskan secara detil tentang tata cara pemilihan pemimpin dan begitu juga dengan Rasulullah, Hanya saja prinsip dasarnya prinsip dasar musyawarah yaitu “Wasyawirhum fil amr”.
Pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pertama Islam adalah hasil dari diskusi panjang antara kaum Anshar dan Muhajirin. Pada awalnya, kaum Anshar menawarkan Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah, namun kemudian Abu Bakar menawarkan Umar dan Abu Ubaidah sebagai khalifah dan berkata bahwa kaum Muhajirin telah diistimewakan oleh Allah karena pada permulaan Islam mereka telah mengakui Muhammad sebagai Nabi dan tetap bersamanya dalam situasi apapun, sehingga pantaslah jika khalifah muncul dari kaum Muhajirin. Umar menolak usulan Abu Bakar dan mengatakan bahwa Abu Bakarlah orang yang paling baik dari kaum Muhajirin. Kemudian, umar melakukan sumpah setia kepada Abu Bakar yang kemudian diikuti oleh Sa’ad bin Ubadah dan khalayak ramai lainnya.
Ketika Abu Bakar sedang dalam keadaan sakit, ia meminta Usman untuk menuliskan wasiat bahwa yang akan menggantikan dirinya sebagai khalifah adalah Umar bin Khattab. Keputusan tersebut bukanlah kepu-tusan pribadi Abu Bakar, melainkan keputusan yang telah dimusyawa-rahkan dengan beberapa shahabat lainnya.
Sebelum Umar wafat akibat ditikam oleh seorang budak bangsa Persia, dia telah membentuk suatu dewan yang terdiri dari Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Said bin Abi Waqqas yang bertugas memilih khalifah pengganti Umar. Setelah Umar wafat, dewan tersebut mengadakan pemilihan.
Abdurrahman mengundurkan diri nya sebagai calon khalifah, sehingga tinggallah calon kuat yaitu Ali dan Usman. Tetapi Ali menunjuk Usman dan Usman pun menunjuk Ali sebagai calon khalifah Islam. Abdurrahman pun kemudian meminta persetujuan dewan agar pemilihan ditunda agar ia dapat menanyakan kepada masyarakat siapakah yang lebih disukai antara Ali dan Usman. Pada akhirnya, Abdurrahman menyatakan bahwa Usmanlah yang menjadi khalifah menggantikan Umar karena mayoritas suara dimenangkan oleh Usman.
Karena rasa tidak puas masyara-kat terhadap kepemimpinan Usman Maka terjadilah pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Usman. Setelah Usman mangkat, banyak permintaan dari para shahabat seperti Abdurrahman, Zubair, dan juga Said bin Abi Waqqas agar Ali bersedia menjadi khalifah menggantikan Usman. Pada awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya ia menerima tawaran tersebut. Namun pemberontakan terhadap Ali baik dari Muawiyah yang tidak setuju Ali menjadi khalifah dan Aisyah yang menuntut agar pembunuhan Usman segera diusut semakin gencar. Ketika perang Shiffin, terjadilah perundi-ngan antara Ali dan Muawiyah. Pada awalnya, pihak pendukung Ali tidak ingin melakukan perundingan, tetapi Ali memutuskan agar perundingan tetap terjadi sehingga ia mengi-rimkan delegasinya Abu Musa Al-Asyari untuk bertemu juru runding dari pihak Muawiyah. Perundingan yang penuh dengan tipu daya politik dari pihak Muawiyah tersebut meng-hasilkan bahwa Ali diberhentikan sebagai khalifah dan Muawiyah sebagai pemimpin Islam yang baru.
Dengan naiknya Muawiyah sebagai Khalifah, berubahlah sistem pemerintahan Islam menjadi sistem kerajaan yang turun temurun.
Merujuk pada beberapa sistem pemilihan Islam masa Shahabat, maka ada beberapa hal menarik untuk disimak. Pertama, substansi dari sistem demokrasi telah dilaksanakan oleh shahabat yaitu ketika pemilihan Abu Bakar dan khususnya Usman. Ketika pemilihan Usman, Abdurrahman bin Auf menemui masyarakat dan mena-nyakan siapakah yang lebih pantas antara Ali dan Usman yang menjadi khalifah dan hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih Usman dan daripada Ali. Kedua, menjadi khalifah bukanlah keinginan pribadi dari khalifah-khalifah ter sebut, akan tetapi karena keperca-yaan yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka sehingga Islam dapat berkembang dan berjaya dimasa awal – awal berkembangnya Islam.
Ketiga, perselisihan pendapat dari kalangan para sahabat-sahabat nabi yang mulya adalah wujud ijtihad mencari kebenaran yang jauh dari nafsu jabatan, sehingga jalan boleh berbeda namun tujuan harus tetap lah satu.  Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s