Perilaku Sang Pemimpin

Sewaktu Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Khalifah, tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya.

Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya berusia tiga puluh

bulan, tetapi kekuasaannya yang singkat itu bagi Allah Ta’ala bernilai lebih dari tiga puluh abad. Beliau meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda, yakni pada usia empat puluh tahun.

Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pasukan kaum mus-limin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekuasaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Subhanallah, Sungguh ini merupa-kan prestatsi yang Luar Biasa!!

Namun tidaklah cukup bagi kita selaku kaum muslimin hanya berbangga-bangga dengan sejarah masa lalu kita, seharusnya kita mempelajari bagai-mana orang-orang terdahulu mampu mencapai puncak kejayaannya dengan harapan kita mampu mendulang kesuksesan sebagaimana yang telah mereka capai..

Sesuatu hal yang baik haruslah dimulai dengan yang baik pula, begitu pula yang terjadi pada umar bin abdil aziz. Ia terlahir dari wanita yang baik dan beristrikan istri yang baik pula.

”Campur saja susunya dengan air!” Tapi amirul mukminin Umar bin Khottob RA telah mengeluarkan per aturannya yang melarangnya, Ibu,” jawab anak gadisnya. ”Khalifah toh tidak akan mengetahuinya,” kilah sang Ibu. ”Kalau Kholifah tidak menge-tahuinya, tapi Allah pasti menge-tahuinya, Ibu!”

Kisah diatas merupakan cuplikan dialog serang perempuan  yang kemudian terlahir dari perutnya; sesosok khalifah kedelapan yang tersohor adil dan zuhud itu, Umar bin Abdul Azis.

Bermula dari Khalifah Umar bin Khottob R.A yang melamar gadis (anak wanita dalam kisah diatas) itu untuk

dinikahkan dengan putranya Ashim. Pernikahan pun berlangsung. Dari hasil perkawinan itu lahir anak seorang perempuan yang kelak dinikahi oleh Abdul Azis bin Marwan. Dan kemudian lahirlah Umar bin Abdul Azis, Sang Khalifah.

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan yang selnjutnya menjadi pendamping hidup kholifah umar BAA dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Qur’an. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan. Keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam.

Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah. Sebagai putera dan saudari para khalifah, perkawinan Fatimah dirayakan dengan resmi dan besar-besaran, dan ditata dengan perhiasan emas berlian yang tiada ternilai indah dan harganya. Namun sesudah perkawi-nannya usai, sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah,

Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua; antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau aku, Umar bin Abdul Aziz” Demi Allah saya tidak akan hidup bersama harta-harta ini diruhmaku selama-nya!, Kembalikan semua harta itu ke baitil maal jika kau ingin tetap bersamaku. Fatimah langsung men-jawab :

بل أردها والحياة حياتك يا عمر، وللآخرة خير وأبقي

“Aku akan mengembalikannya dan aku akan hidup bersamamu wahai umar, dan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih abadi”.

Pada suatu hari raya puteri-puteri nya datang kepadanya, “Ya Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru…”. Khalifah Umar berkata kepada mereka. “Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah.”

Mengetahui hal tersebut, pengelola baitulmal berusaha menengahi, “Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan

menimbulkan masalah kalau untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan.” Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengu-rus Baitul mal. Ia berkata, “Celaka engkau! Apakah kau tahu ilmu gaib bahwa aku akan hidup hingga esok hari!?”

Ketika Salah seorang Gubernur nya menulis surat. Isinya minta dana untuk membangun benteng sekeli-ling kota. Khalifah membalas surat nya. ‘Apa manfaatnya membangun benteng ? Bentengilah ibu kota de-ngan keadilan, dan bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman.”

Ketika bibinya bermaksudnya meminta tambahan tunjangan dari Baitul Maal. Amirul Mukminin mengambil sekeping uang logam satu dirham dan membakarnya. Dibung-kusnya uang itu dengan sepotong kain dan di berikannya kepada bibi nya seraya berkata,” Inilah tambahan tunjangan uang yang bibi minta.” Bibi menjerit kepanasan ketika menyen-tuh bungkusan berisi uang logam panas itu. Umar berkata,” Kalau api dunia terasa sangat panas bagaimana kelak api neraka yang akan menbakar aku dan Bibi?¢

One response to “Perilaku Sang Pemimpin

  1. askum

    mas2 thu gak kmrin UKM kerohanian islam di fakultas q ngadain dialog temanya sie pertanian secara islam

    eeeh thu gak da yang nyeleneh kon ihh

    masak dibiliang hukumnya ijaroh tanah tu haram

    tu pemateri mungkin dari HTI kaleee ya e maen haram ja

    da slah stu peserta ynag dukung jwbannya eeh thu gak dia ngambil dasr baca mjalahnya orng HTI

    duuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s