Pindah Kiblat

Pada bulan Sya’ban telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak seyogyanya kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas / Baitiul makdis yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram.

Masjid al-Aqsha yang berada di Kota Palestina, merupakan salah satu tempat kebanggaan umat Muslim di seluruh dunia. Sebab, Rasulullah SAW pernah menyinggahi tempat ini ketika peristiwa Isra dan Mi

lima waktu (QS Al-Isra ayat 1). Dan, sejarah telah mencatat bagaimana peristiwa Isra dan Mi’raj itu berlang-sung. Masjid al-Aqsha menjadi tempat suci ketiga umat Islam sete-lah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Sebelum melaksanakan Mi’raj (naik ke langit), Rasulullah SAW melak-sanakan shalat sunah di Masjid al-Aqsha. Selain itu, Masjid Al-Aqsha juga pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya datang perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk menghadap kiblat ke Baitullah (Ka’bah) di Makkah (QS

Albaqarah ayat 142-145). Tentu men-jadi sebuah pertanyaan besar, baik di kalangan umat Islam maupun umat lainnya, mengapa Rasulullah SAW justru melaksanakan Mi’raj dari Masjid al-Aqsha? Mengapa tidak di Masjidil Haram? Mengapa saat melaksanakan shalat itu dulunya Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis (Al-Aqsha)? Dan, tentunya, masih banyak pertanyaan lainnya.Oleh karena itu, teramat penting bagi umat Islam untuk mengetahui hal tersebut.

Dalam beberapa keterangan disebut kan, ketika Allah memerintahkan perintah shalat dan menghadap ke Masjid al-Aqsha, hal itu dimaksudkan agar menghadap ke tempat yang suci, bebas dari berbagai macam berhala dan sesembahan. Ketika itu, kondisi Masjid al-Haram yang merupakan tempat keberangkatan Isra dan Mi’raj, belum berupa bangunan masjid. Sebab, kala itu masih dipenuhi berhala-berhala yang jumlahnya men capai 309 buah dan senantiasa disembah oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam. Sehingga, di bawah dominasi kekufuran seperti itu, Rasulullah SAW belum bisa menunai kan ibadah shalat di tempat tersebut.

Selain itu, bila Rasulullah SAW saat itu melaksanakan shalat dengan menghadap ke Masjid al-Haram, hal itu akan menjadi kebanggaan bagi kaum kafir quraisy bahwa Rasulullah SAW seolah mengakui berhala-berhala mereka sebagai tuhan. Inilah salah satu hikmah diperintahkannya shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis (al-Aqsha). Dalam surah Albaqarah ayat 142, Allah SWT menjelaskan mengapa perpindahan kiblat itu dilakukan.

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

orang-orang yang kurang akalnya [Maksudnya: ialah orang-orang yang kurang pikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud pemindahan kiblat] diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”

Ayat ini menegaskan hikmah dari perpindahan kiblat tersebut adalah dalam ibadat shalat itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan ka’bah itu menjadi tujuan, tetapi mengha

kan diri kepada tuhan. Adapun Ka’bah, adalah sebagai pemersatu umat Islam dalam menentukan arah kiblat. Sama seperti al-Aqsha yang juga belum berupa bangunan masjid (ketika itu), dan al-Shakhra masih berupa gundukan tanah yang dipenuhi dengan debu.

Adapun hikmah dibalik penyebutan Allah SWT terhadap al-Haram dan al-Aqsha sebagai masjid (sebagaimana termaktub dalam surah al-Isra ayat 1), adalah untuk menunjukkan pada umat Islam bahwa semua itu merupakan mukjizat yang akan datang dan terwujud seiring dengan berjalannya waktu sebagaimana sekarang ini, keduanya telah menjadi masjid.

Perpindahan Kiblat terjadi pada bulan Syakban tahun 2 H, bertepatan dengan bulan Januari 624 M. Barra bin Azib ra. berkata, “Saya shalat bersama Rasulullah saw menghadap ke Baitulmakdis selama 16 (enam belas) bulan sampai turun ayat 144 surat Al Baqarah: ”

وحيثما كنتم فولوا وجوهكم شطره

Di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Peristiwa itu terjadi saat Rosulullah berada di Perkampungan Bani Sala-mah, saat beliau sholat asar, ada riwayat lain yang mengatakan sholat zhuhur, datang Malaikat Jibril setelah rakaat kedua membawa perintah Allah untuk menghadap ke arah ka’bah. Lalu Rosulullah berbalik ke belakang menghadap ke arah ka’bah, dan para sahabat yang saat itu posisinya berada di depan Rosulullah berjalan ke belakang Rosulullah kemudian Rosulullah maju ke depan beberapa langkah. Kemudian disebarkanlah ke seluruh kota Madinah bahwa qiblat kaum muslimin kembali menghadap ke arah ka’bah.

Perubahan ini selanjutnya disertai dengan perubahan posisi masjid yang dulunya menghadap ke Utara menjadi menghadap ke Selatan. Nabi saw. merubah letak mihrabnya dari sebelah Utara menjadi ke Selatan mesjid menghadap ke kota Mekah. Wallahu A’lam.

2 responses to “Pindah Kiblat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s