Efek Ilmiyah Puasa

Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة 183)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2/183).

Tafsir : Secara Bahasa, shaum merupa-kan sinonim dari imsak (menahan diri untuk tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu dan bahkan ia maknanya lebih jauh dari itu yakni meninggalkan segala sesuatu.

Adapun secara terminologis, shaum berarti, “Menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan perbuatan-perbuatan maksiat dengan niat yang ikhlas, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Ibadah ini diwajibkan mulai tahun ke-2 hijrah.”

Tafsir :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا

Pengkhususan  panggilan Allah swt pada orang-orang yang beriman pada Allah dan RasulNya, serta orang yang membenarkan keduanya.

Keistimewaan panggilan ini adalah karena dipanggil dengan nama/gelar termulia dari manusia lainnya.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

Bahwa kewajiban tersebut dinisbatkan kepada Allah swt, maka barangsiapa yang mengingkarinya harus memper-tanggungjawabkan perbuatannya kelak di hadapanNya. Ayat ini dicantumkan dengan urutan setelah 2 ayat “kutiba” lainnya, yaitu ayat tentang hukum kemasyarakatan (hukum qishash) dan ayat tentang hukum kekeluargaan (hukum wasiat), sehingga maknanya adalah, “Jangan sekali-kali ummat Islam berusaha memisahkan antara urusan ibadah dengan mu’amalah, semuanya harus sesuai dan diatur oleh syari’at Allah swt.”

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Sebagaimana telah diwajibkan kepada ummat sebelum kita, di sini Allah swt memerintahkan ummat Muhammad saw untuk melihat betapa beratnya syari’at puasa ummat sebelum kita, seperti Maryam AS yang shaumnya tidak boleh berbicara  sama sekali, demikian pula shaumnya Thalut AS yang hanya boleh minum seteguk air saja sehingga diriwayatkan bahwa kaumnya Thalut yang mampu bertahan berpuasa seperti itu hanya 309 orang saja, demikian pula

puasa Nabi Daud AS yang selang sehari seumur hidupnya, dan puasa ummat Muhammad saw sebelum turunnya QS. Al-Baqarah 2/187 yang belum diturunkan syari’at makan Sahur.

Selain umat Islam, puasa sebenarnya telah diamalkan oleh pelbagai kaum dan bangsa di seluruh dunia. diantara tujuan utama mereka berpuasa ialah karena dapat menyehatkan badan. Ini sejajar dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah S.W.T. bahwa puasa merupakan ibadah yang amat baik untuk kesehatan fisik maupun mental, rohani dan juga jasmani. Malah, ada pendapat yang mengatakan bahwa diet yang terbaik ialah dengan cara berpuasa secara konsisten.
Sebenarnya, puasa secara alamiyah terdapat dalam alam semesta di mana binatang tertentu seperti katak dan ulat turut mengamalkan puasa. Puasa juga telah disyariatkan dalam semua agama langit seperti Kristen dan Yahudi. Malah agama budaya (ardi) juga seperti bangsa Hindu dan Budha mengamalkan puasa di dalam cara hidup mereka.

Dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa. puasa menjadi salah satu sarana penting dalam laku (spiritual act) untuk mencapai tujuan tertentu. Umpamanya, agar anggota keluarga selamat dalam melakukan perjalanan, atau agar seseorang yang dicintai cepat sembuh dari sakit. Puasa ala Jawa bermacam-macam bentuknya. Misalnya, ada yang disebut ngebleng, ngrowot, atau mutih. Mana yang dipilih tergantung tujuan yang ingin dicapai mengingat bobot puasa itu berbeda-beda. Baik waktu maupun bentuknya. Makin berat tujuan yang hendak dicapai, makin berat pula bobot puasanya.

Banyak tokoh dunia yang mencari kekuatan mental serta kesempurnaan moral dengan melakukan puasa. Mahatma Gandhi, tokoh legendaris India dalam bidang politik maupun spiritual, sengaja berpuasa selama 21 hari demi mencapai tujuan perjuangannya bagi perdamaian India. Bung Karno dalam kegigihan dan heroismenya, disebut sering berpuasa, terutama pada saat-saat kritis melawan penjajah Belanda maupun Jepang.  Begitu juga pengarang besar Rusia, Leo Tolstoy; pengarang dari Perancis Francois Voltaire dan pengarang Austria Franz Kafka yang menjadikan puasa sebagai amalan dalam kehidupan mereka.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Bahwa puasa itu ada targetnya, yaitu haruslah mencapai derajat taqwa. Dan taqwa artinya mensucikan jiwa (tazkiyyah-nafs) dari kotoran dan kemaksiatan, maka tiada artinya berpuasa yang hanya memindahkan jadwal makan dan minum belaka.

Secara ilmiyah, Prof. Arnold Ehret dari Jerman berkata bahwa puasa yang tepat mampu menyegarkan fisik, mental dan spiritual seseorang.

Ahli filsafat seperti Socrates, Plato, Aristotle dan Pythagoras juga mengamalkan ibadah puasa untuk meningkatkan performa fisik dan mental agar dapat berfikir serta mencetuskan idea-idea yang gemilang.

Bahkan lebih jauh, Soekirno, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, puasa bisa ikut membantu mengendalikan stres. Juga, menjadi terapi beberapa penyakit tertentu seperti hipertensi, kanker kardiovaskuler, ginjal, dan depresi, akan lebih cepat dan efektif bila diikuti dengan aksi puasa. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.n Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s