Setan Dibelenggu???

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَان فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas adalah hadits shohih yang di takhrij (dikeluarkan) oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Dalam Redaksi An-Nasa’I, hadits diatas disebutkan dengan “Tughollu as-syayatiin” sebagai ganti “shuf fidat as-syayatiin”, dan di dalam hadits lain disebut “wa sulsilat as-syayatiin” yang secara makna memiliki arti dan maksud yang sama, sehingga hadits di atas tidak perlu diperselisihkan nilai kebenaran nya. Namun bagaimana kah maksud hadits di atas? Memang secara kasat mata, di lingkungan mayo-ritas muslim, kemaksiatan menurun drastis – atau setidak-tidaknya mereka “sedikit lebih sopan” dalam melakukan ke- kemaksiatan. namun tetap saja kemaksiatan terjadi terjadi selama bulan Ramadhan. Bukankah para setan laknatullah itu sudah dibelenggu? Kalo benar. Lantas kenapa masih ada yang melakukan kemaksiatan? Apa makna dari dibelenggunya syetan pada bulan ramadhan ini?

Memaknai hadits diatas adalah hal yang mudah namun jika makna tersebut diaplikasikan dalam dunia kita maka ada suatu kejanggalan, sebagaimana ter lontar dalam pertanyaan diatas. Perlu diketahui bahwa Para ulama’pun ber beda-beda dalam memaknai dibeleng-gunya syetan, al. :

Pertama : Maksud dari setan itu dibelenggu adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas. Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran. (Minal Jinnati wan naas)

Kedua : yang dimaksud dengan terbe-lenggunya syetan adalah bahwa syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya.

Mengapa?

Karena di bulan Ramadhan umumnya orang-orang sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Dan kegiatan mereka ini membuat syetan menjadi terbelenggu untuk leluasa menggoda dan mencelakakan manusia. Ruang gerak mereka menjadi lebih terbatas, dibandingkan dengan har-hari di luar bulan Ramadhan. Misi utama setan adalah menebar dosa dan menghiasinya agar manusia tertarik kepadanya, namun pada bulan ramadhan Allah membuka pintu rahmat yang menebar dan menaburkan rahmat yang lebih banyak daripada dosa yang ditebar oleh setan sehingga ia merasa dikebiri / terbelenggu atau terkekang. Ini Pendapat Ibnu Hajar.

Ketiga: yang dimaksud dengan terbe-lenggunya syetan adalah bahwa syetan benci sekali kepada ibadah puasa sehingga sesak dadanya seperti terkekang dalam penjara. Sebagaimana memaknai hadits tentang menguap:

وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ

Adapun menguap maka ia berasal dari setan (Hadits Bukhori-Muslim)

Hadits ini dimaknai sebagai keadaan setan yang senang sekali melihat seseorang yang menguap, sampai setan tertawa terbaha-bahak kegirangan.

Jika hadits diatas dimaknai bahwa menguap adalah perbuatan atau disebabkan oleh setan, maka akan timbul pertanyaan yang sama, mengapa menguap itu masih terjadi dalam bulan dimana para setan dibelenggu.

Keempat : pendapat yang lain seperti apa yang dikatakan oleh Al-Hulaimi, bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit. Malam bulan Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an, mereka pun terhalangi untuk melakukan dengan adanya “belenggu” tersebut. Maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).

Kelima : Syeik Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang makna hadits diatas, bagaimana mungkin setan dibelenggu padahal kejahatan tidak berkurang adanya. Ia menjawab bahwa hal tersebut merupakan hal-hal ghoib yang wajib kita imani dan tidak boleh dipermasalahkan. Iapun menceritakan bahwa suatu saat abdullah anak dari imam ibnu hanbal bertanya kepada ayahnya : mengapa manusia masih berbuat jahat di bulan suci ramadhan (padahal para setan diborgol) ? Iapun (Imam Ahmad) menjawab : begitulah hadits nabi dan kita tidak boleh mempermasalahkannya.

Walhasil, Hadits diatas benar adanya Namun Hanya Allah dan Rasulnya yang mengetahui makna sebenarnya.

Rasulullah saw menggambarkan apabila manusia berbuat dosa maka satu titik hitam melekat di hatinya. Apabila dia bertobat, maka titik hitam itu terhapus. Jika tidak, kemudian dia melakukan dosa lagi, maka titik hitam lain akan muncul sehingga hatinya betul-betul menjadi hitam. Manusia yang hatinya sudah hitam inilah yang digambarkan Allah SWT :

أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

Mereka itulah orang-orang yang di cap hati mereka oleh Allah dan mereka mengikuti hawa nafsnya. (QS Muham-mad : 16).

Jadi jangan heran, meskipun para syetan laknatullah dirantai, seorang manusia yang sudah terbiasa berbuat maksiat tidak membutuhkan satu setanpun untuk menuntunnya pada kemaksiatan. Dan kecenderungan un-tuk berbuat maksiat ini berasal dari ha-wa nafsu manusia.n Wallahu A’lam

2 responses to “Setan Dibelenggu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s