ISLAM ANJURKAN MENGEMIS ?

Dibulan terakhir ini ada beberapa kejadian yang menarik perhatian, diantaranya sbb:

1. Peraturan daerah (perda) tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum DPRD DKI, Senin (10/9).  Yaitu Lara-ngan memberi sedekah kepada pe-ngemis, maupun melakukan aktivi-tas mengemis  itu termuat dalam pasal 40 huruf b, dan c. juga mengamen, mengasongkan daga-ngan, dan mengelap mobil di tempat umum. Dengan sanksi : denda hingga maksimal Rp 20 juta atau mendekam di tahanan paling lama 60 hari.

2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, me-ngeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat.

3. Fatwa Haram Menarik Sumbangan di Tengah Jalan yang marak di pasuruan dan daerah lain untuk pembangunan masjid. dikeluarkan oleh MUI Kabupaten Pasuruan,  hal ini dikarenakan dinilai telah meng-ganggu pengguna jalan.

Dan membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain serta meman-faatkan kepentingan umum yang bukan pada kegunaannya.

Tiga hal diatas adalah setali tiga uang yang saling berkaitan yang menjadi problematika tersendiri dalam bulan suci ramadhan yang menjadi momen kedermawanan ummat islam yang dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu demi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya yang akhirnya menimbulkan dampak sosial.

Sebutlah contoh seperti yang terkenal, Cak To, Surabaya, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Atau Rp 6 juta – Rp 9 juta Perbulan.

Sebenarnya tidak harus ada perda atau fatwa MUI mengenai hal diatas, karena jauh-jauh sebelumnya Rasul saw dan para sahabat beliau telah memberikan teladan yang baik sebagai rambu-rambu aturan hidup kita diantaranya:

Allah swt mensifati para sahabat yang fakir dengan firman-Nya :

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena meme-lihara diri dari minta-minta.

Hal ini memberi gambaran betapa para sahabat memelihara hakekat iffah (sikap menjaga harga diri) yang kokoh tertanam dalam diri mereka. Meskipun mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Namun kepapa-an mereka itu, tidak lantas membuat mereka rela menggadaikan harga diri dan kehormatan, serta harus terhina di mata manusia. Saking kuatnya sifat iffah ini, sampai-sampai saudara-saudara muslimnya yang lain menyangka mereka itu orang kaya dan mampu.

Beda halnya dengan kondisi kaum fuqara kita hari ini. Sungguh, pemandangan akan antrian peminta-minta baik yang datang ke rumah-rumah, di tengah jalan ataupun yang selalu nongkrong di depan pintu masjid setiap selesai shalat jum’at bukan hal aneh lagi. Boleh jadi,

lantaran sering mendapat kucuran sedekah yang dapat menutupi sebagian kebutuhan hidupnya tanpa harus bersusah payah, maka profesi sebagai pengemis ini pun menjamur dimana-mana. Bahkan, telah menjadi sumber mata pencaharian. Dan inilah yang dikhawatirkan sehingga sampai keluar PERDA di DKI seperti diatas.

Perbuatan tersebut jelas tercela, bahkan diharamkan dalam Islam. Sebab, yang dibolehkan oleh Islam itu adalah meminta-minta lantaran keadaan darurat dan kondisi yang terpaksa. Rasul saw bersabda: “Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu, maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahannam”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban).
Dalam hadits lain, “Senantiasa orang meminta-minta hingga datang pada hari kiamat kelak, tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Masih banyak lagi  hadits yang berisi ancaman meminta-minta bukan lantaran darurat.

Rasul sendiri pernah menjelaskan, bahwa orang yang membawa tali, lalu pergi ke gunung mencari kayu lalu dijual untuk makan dan bersedekah, itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang yang terkadang memberinya dan tak jarang menolaknya”.  (HR. Al-Bukhari)

Islam menganjurkan mengeluarkan zakat, bukan berarti Islam meleji-timasi (membenarkan) kemiskinan, peminta-minta dan pengangguran. Akan tetapi, Islam memberikan solusi dan jalan keluar dari ketiga masalah di atas. Sebab, sepanjang perguliran roda zaman ini, akan selalu ada orang-orang miskin, pengangguran dan peminta-minta. Dan inilah yang membedakan syariat Islam yang agung dengan ajaran agama-agama yang lainnya. Jika zakat dikelola dengan baik maka tak mustahil orang miskin bisa berkurang bahkan tiada lagi, seperti di zaman kholifah umar bin abdul aziz.

Islam agama yang indah, namun tidak sedikit yang menodai keinda-han agama suci ini. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s