MEMAKNAI HALA BI HALAL

Sebagaimana pengertian yang lazim, Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian (fitrah). Fitrah kejadian manusia itu suci. Namun, dalam perjalanan sejarahnya manusia senantiasa bergelimang dosa. Karena itu, perlu upaya pengembalian pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.

Dosa yang paling banyak dilakukan manusia adalah kesalahan-baik kecil maupun besar-terhadap sesamanya. Disebabkan oleh hal-hal yang sepele antar manusia bisa bermusuhan, bertikai, hingga saling bunuh. Idul Fitri merupakan momentum untuk saling memaafkan antar manusia, baik secara individu maupun kolektif. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal bi halal. Meski awalnya eksklusif milik umat Islam, kini

telah menjadi fenomena nasional, telah dimiliki dan dilaksanakan semua kalangan, tak terkecuali non-Muslim. Fenomena ini wajar karena relevan dengan inklusivitas misi ajaran Islam.

Halal bi halal, seperti disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Terminologi ini jelas menunjukkan adanya ikatan primordial ideologis karena dikaitkan dengan acara Lebaran yang hanya dimiliki umat Islam. Bagaimanapun Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang telah sebulan penuh (Ramadhan) berhasil melawan berbagai nafsu yang membelenggu jiwa. Dalam konteks ini tentu pesta kemenangan Lebaran “hanya” berhak dimiliki umat Islam yang berpuasa plus dilandasi iman.

Namun, apakah halal bi halal hanya dimiliki umat Islam? Menurut pakar tafsir Prof Dr Quraish Shihab, halal bi halal merupakan kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata bahasa Arab halal diapit satu kata penghubung ba’ (baca; bi).

Meskipun istilah Halal BI Halal itu berasal  dari bahasa Arab, yakinlah, orang Arab sendiri tidak akan mengerti makna sebenarnya halal bi halal kecuali bagi yang sudah diberi tahu karena ia khas dan kreativitas bangsa Indonesia.

Dalam Al Quran kata halal memiliki dua makna. Pertama, dalam pengertian hukum yang berarti ’diperkenankan’ (lawan dari haram). Kedua, dalam pengertian ’perolehan rezeki atau memakan makanan’, yang selalu dikaitkan dengan kata thayyib (halalan thayyiba) yang berarti ’baik dan menyenangkan’. Hal ini dikarenakan tidak semua perkara halal itu thoyyiban. kadang ada sesuatu yang halal, tetapi tidak thayyiban (baik), misalnya talak (cerai, pemutusan hubungan suami istri), seperti ditegaskan Rasulullah SAW, Hal yang halal hukumnya namun paling dibenci Allah SWT adalah talak.

Berarti dalam hal ini halal yang patut dijadikan pedoman adalah yang baik dan menyenangkan. “Dalam surat Ali ’Imron: 134-135 ditegaskan, bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan

amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.

Bila demikian, halal bi halal bisa diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang plus mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau secara umum, makna filosofisnya berarti tiap orang dituntut tidak melakukan apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Artinya, ketika ber-halal bi halal, seharusnya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain yang diajak ber-halal bi halal.

Dari sini juga bisa dipahami, kebutuhan akan saling memaafkan dan berbuat kebaikan bagi orang lain seharusnya tidak semata-mata dilakukan saat Lebaran. Akan tetapi, kapan pun dan di mana pun karena kebutuhan manusia akan saling memaafkan dan berbuat kebaikan tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu. Apalagi hanya dibatasi oleh semangat primordial idiologis yang sempit, tentu sangat tidak relevan.

Berangkat dari makna halal bi halal seperti tersebut di atas, pesan moral halal bi halal menjadi sangat universal (menyeluruh), tidak semata dimiliki oleh umat Islam dalam pengertian idiologis yang formal. Wallahu a’lam bis showaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s