“arisan” GEMPA

Gempa menghajar bangsa kita. Mulai dari Yang terjadi di Tasik-malaya, Jawa Barat. ( 2 September 2009) dengan kekuatan 7,3 SR , Sabtu, 19 September 2009, gempa dengan kekuatan 6,4 SR , meng-hantam Bali . Kemudian 30 septem-ber 2009,gempa dengan kekuatan 7,6 SR, memporak-porandakan Sumbar. Hingga kemarin,1 Oktober 2009, gempa dengan kekuatan 7 SR., menghampiri Jambi.

Musibah tersebut seakan-akan “ari-san” yang semuanya pasti kebagian hanya masalah waktu saja..

Meskipun Jatim masih aman hingga sekarang namun tidak ada jaminan seterusnya kita akan aman dari bencana. Maka dari itu marilah kita merenung dengan renungan seorang mukmin yang percaya penuh akan kekuasaan Allah swt.

Sesungguhnya kebanyakan manusia menyandarkan segala musibah, baik krisis, banjir, gempa,  hanya kepada sebab-sebab materi semata. Krisis karena korupsi, Banjir karena erosi, gempa karena gesekan lempengan bumi dst.Tidak diragukan lagi bahwa ini menunjukkan dangkalnya pema

haman mereka, kelemahan iman dan kelalaian mereka dari mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Semestinya kita memahaminya seba-gaimana kita melihat seseorang yang mati. Ia mati karena sakit liver misalnya. Ini adalah sebab berupa materi yang menjadi konsekwensi ajalnya sudah tiba. ia telah dipanggil menghadap Allah SWT. Inilah sebab-sebab diluar materi.

Sesungguhnya di balik sebab-sebab materi, ada sebab-sebab syar’i yang lebih kuat dan lebih besar penga-ruhnya. Sebab-sebab materi hanya merupakan akibat dan konsekuensi logis dari sebab-sebab syar’i. Allah SWT berfirman, artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum : 41).

tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. “ω÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉ‹ã‹Ï9 uÙ÷èt/ “Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ

Mengapa kita semua tidak menyan-darkan musibah – musibah yang menimpa kepada kelalaian kita terhadap ajaran Islam, supaya kita semua kembali ke jalan Allah. (la Allahum Yarji’uun) Inilah yang dapat menyelamatkan kita dari kebinasaan.
Hendaklah kita takut kepada Allah, introspeksi diri, bertaubat kepada-Nya dan memperbaiki jalan hidup kita masing – masing. Ketahuilah bahwa musibah – musibah yang menimpa manusia merupakan balasan dari Allah disebabkan dosa-dosa mereka, maka bertaubatlah kepada Allah atas setiap musibah yang menimpa, mintalah perlindungan kepada-Nya dari kehancuran materi dan iman sebelum betul-betul musibah apapun wujudnya ditimpa-kan kepada kita, naudzu billah.

Baginda Nabi SAW pun bersabda kepada Ummu Salamah (istriNya):

إذا ظهرت المعاصي في أمتي عمهم الله عز وجل بعذاب من عنده

Jika segala bentuk kemaksiatan telah merajalela di dalam suatu bangsa (umat-Ku), maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka”. Ummu Salamah

bertanya:

فقلت يا رسول الله أما فيهم يومئذ أناس صالحون

Wahai Rasulallah, apakah dalam kondisi (dilaknat) itu masih terdapat orang sholeh, taat beribadah?” Rasulullah men jawab: “Ia, masih ada”. Ummu Salamah bertanya lagi:

Lalu bagaimana mereka?” Rasulul-lah pun menjawab:

يصيبهم ما أصاب الناس ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان

Orang-orang shaleh taat beribadah yang terdapat pada kaum (bangsa) tersebut, juga turut ditimpa ben-cana, kemudian mereka akan men dapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah“. (HR. Ahmad- 25382)

Diantara esensi hadits tersebut. Ke-maksiatan ‘segelintir’ orang, tidak hanya si pelaku yang menanggung akibatnya, tapi juga mampu menyebabkan datang adzab yang dahsyat bagi orang lain, bahkan seluruh bangsanya, yang taat beribadah sekalipun turut terkena imbasnya.

Kita juga perlu merenung, hari-hari

Masih bulan syawal yang menjadi bulan menjalin silaturrohmi. Adakah kita menyambungnya ataukah seba-liknya kita memutuskannya. Ingat, Rahmat (belas kasih) Allah tidak diberikan kepada suatu kaum yang didalamnya terdapat orang yang memutuskan tali silaturrohmi.

Rasul SAW bersabda : ‘Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan  (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubung-kan tali Silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburu-kan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan” (HR Ibnu Majah).

Dalam riwayat abu awfa, Rasul meng-usir orang yang memutuskan tali silaturrohmi. Dari sini bisa kita ke-tahui betapa Rasul tidak mentolelir sekecil apapun perbuatan memutus-kan silaturrahim. Sebaliknya Rasul sangat mendorong, memotivasi kita untuk bersilaturrahim dalam arti yang hakiki. Inilah penolak bala’-musibah dan menjadikan Allah SWT sayang kepada Kita. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s