Miyabi “Menculik” Akhlakul Karimah

Keterpurukan yang melanda akibat bencana gempa di Jawa Barat dan Sumatera Barat belumlah usai, Duka lara belumlah terobati, Kini kita digemparkan dengan keterpurukan Akhlakul karimah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim ini dengan rencana kedatangan Miyabi, gadis 23 tahun, ikon bintang pornografi asal Jepang, yang diundang segelintir kecil orang yang tak punya perasaan, pikiran dan simpati terhadap derita bangsa. Ia diagendakan untuk membintangi film yang katanya bersifat komedi yang berjudul “Menculik Miyabi”.

Di tengah kondisi demikian, Miyabi dielu-elukan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum kedatangannya, sudah mendapat sambutan beragam yang isinya menyambut baik pelaku adegan mesum tersebut. Seorang aktor sinetron remaja, menyatakan, ia segera memborong CD/DVD aneka gaya Miyabi dalam melakukan perzinaan. Dengan bangga, aktor yang diberitakan berumroh pada bulan Ramadhan, mengakui mengagumi Miyabi, serta berharap mendapat kesempatan berakting bersama dalam sebuah lakon. Sedangkan, seorang artis lain, yang

yang pernah giat menjadi pembawa acara “haha-hihi” pada waktu sahur, membuka tangan lebar-lebar atas kedatangan Miyabi. Tanpa rasa risih, ia memuji Miyabi yang sukses mencetak “best-seller” internasional, dari CD/DVD yang merekam adegan-adegan zinanya. Ia juga memuji kecantikan wajah Miyabi yang oriental, tubuh semampai dan karakter akting yang prima. Masya Allah.

Tak ketinggalan, aktor senior Butet Kertarajasa, ikut urun rembug. Ia, yang pernah bermonolog di depan para Capres/Cawapres ketika musim kampanye yl., dan membuat wajah Susilo Bambang Yudhoyono merah padam, mengatakan, negeri kita sudah kotor oleh kemaksiatan. Mengapa kedatangan satu aktris pelaku maksiat diributkan ?. Bagi Butet, mungkin sebuah tempat kotor, lebih baik terus dikotori. Bukan dibersihkan.

Melihat kenyataan seperti ini maka saya berpendapat bahwa yang terjadi bukan “Menculik Miyabi” tapi Miyabi-lah yang telah “menculik” akhlakul karimah dan tata krama sebagian kaum muslim dari bangsa yang mayoritas penduduknya muslim.

Kata “menculik” mengandung pe-ngertian bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara diam-diam bahkan tidak diketahui dan disadari oleh orang banyak. Dekadensi moral yang terjadi akibat “wabah miyabi “ cenderung tidak terasa bahkan ter lontar dalam ucapan dan pendapat secara spontan tanpa sadar bahwa apa yang diungkapkannya meru-pakan kegembiraan akan maksiat yang nyata. Ingatlah bahwa ber gembira terhadap suatu maksiat adalah maksiat itu sendiri. Ibnul Qayyim berkata :

الفرح بالمعصية دليل على شدة الرغبة فيها والجهل بقدر من عصاه والجهل بسوء عاقبتها، وعظم خطرها

Bergembira akan suatu maksiat adalah tanda akan betapa senangnya dia akan maksiyat tersebut dan kebodohan dia akan keagungan dzat yang dia bermaksiyat kepadanya serta ketidak tahuan dia akan betapa jelek suatu akibat kemaksiatan dan betapa besar bahayanya.

Setan betapa cerdik untuk memoles kejelekan supaya nampak menjadi indah dan bagus, dan kita lupa akan hakikatnya.

Setan la’natullahu ‘alaihi menggoda anak cucu Adam dari seluruh penjuru mata angin. Setan menyesatkan kita dari ujung rambut kepala hingga ujung mata kaki. Setan menyelinap masuk dalam semua aktifitas kita. Ia singgah di mata yang tertarik pada tontonan naïf, pornografi, pornoaksi dan berbagai macam tayangan media mesum lainnya.

Kita harus melawannya. Kita sadar bahwa benteng moral kita sudah dikepung sedemikan rupa oleh setan. Kita harus melawannya dengan segenap bekal iman yang dipersenjatai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah. Dengan berpegang teguh pada keduanya dan mengamalkan ajarannya.

Kita lawan setan yang ada di mata kita dengan gadhdhul bashar (menundukkan pandangan), banyak menangis saat bersimpuh sujud di hadapan-Nya. Sebab pandangan itu merupakan anak panah setan dan api neraka tidak akan berani menyentuh mata yang selalu basah dengan air mata ketakutan pada Maha Pencipta karena dosa-dosa.

Ada satu renungan Yaitu, kalau setan dari bangsa jin kita bisa mengalah-kannya hanya dengan membaca ayat kursi tapi tidak untuk setan manusia. Bahkan bila kita bacakan ayat kursi di depan manusia yang sudah berjiwa setan, kita akan dijadikan bahan ketawa dan cemoohan. Kita bisa membunuh setan jin tanpa harus berurusan dengan yang berwajib tapi kita akan dijebloskan ke buih jika membunuh setan manusia. Lihatlah setan-setan manusia itu lebih jahat dari setan jin. Setan jin berzina tidak berpengaruh bagi mata kita, tapi setan manusia dengan seenak udele dhewe berzina di pinggir-pinggir pantai, di jalanan dan di berbagai tempat terbuka lainnya. Bahkan diabadikan dalam VCD yang dijual bebas dipinggir-pinggir jalan, dekat sekolah SD, Bahkan didekat masjid.

Fenomena yang terjadi semakin sesuatu dilarang maka ia semakin marak dan terkenal. Dulu i**L sekarang Miyabi dan yang akan datang akan ada lagi yang lebih dahsyat menggoda kita semua. Tetaplah beriman, Mudah2an Khus-nul Khotimah. Wallahu A’lam

One response to “Miyabi “Menculik” Akhlakul Karimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s