Korupsi, Suap dalam Ajaran Islam

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di kamar istana melakukan pekerjaan ber kaitan dengan urusan negara. Tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu ingin menemui bapaknya. Sebelum masuk, ditanya oleh Khalifah, “Ada apa Anda malam-malam ke sini?” “Ada yang ingin dibicarakan dengan Bapak”, jawab anaknya. “Urusan keluarga atau urusan negara?” tanya balik Khalifah. “Urusan keluarga”, tegas anaknya. Seketika itu, Khalifah mematikan lampu kamarnya dan mempersilakan anaknya masuk. 

“Lho, kok lampunya dimatikan?,” tanya anaknya sambil keheranan. “Ini lampu negara, sementara kita mau membicarakan urusan keluarga, karena itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara,” demikian jawab Khalifah. Sang anak pun meng-iyakannya.

 

Demikianlah sekelumit gambaran tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam upayanya untuk menegakkan good and clean governance, melalui sikap-sikap yang akuntabel dan menghindari pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan diri,

kelompok, dan keluarganya. Itulah cerminan pengejawantahan ajaran agama islam. Betapa mulianya ajaran ini yang telah melarang setiap pejabat menyalah gunakan fasilitas negara, apalagi menyalah gunakan jabatannya demi memperoleh keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan melakukan suap dan menerimanya.

 

Suap sebagai perilaku sosial boleh dikatakan memiliki usia sama tuanya dengan usia syariat Islam. Nabi Muhammad sebagai peletak dasar tasyri’ pada awal masa pemerintahan nya telah menegaskan sikap atau garis ketentuan ajaran Islam tentang lara ngan praktik suap sebagaimana hadits diatas. Bahkan ada kemungkinan budaya suap ini sudah terjadi semenjak pra islam atau zaman jahiliyah. Hal ini sebagaimana di pahami dari cerita sahabat Abdullah bin Ramlah ketika diutus oleh Rasulullah kepada orang Yahudi untuk menentukan berapa kewajiban yang harus mereka keluarkan dari budi daya kurmanya, di mana orang Yahudi tersebut menawarkan sebuah pem-berian yang sangat berharga ke pada Ramlah, namun Ramlah menolaknya, “Apa yang kamu berikan berupa suap

ini merupakan barang haram, kami orang Islam tidak boleh memakan-nya”.

 

Larangan suap juga didukung se-penuhnya oleh para sahabat Rasul. Sebut salah seorang diantaranya ada lah Sayidina Umar ibn Khattab. Beliau pernah mengingatkan kepada sahabat Said ibn Abi Waqas dalam suratnya, “Dan janganlah kalian jadikan salah satu dari musyrikin itu sebagai juru tulis umat Islam, karena mereka telah menjadikan suap sebagai penukar dari agama mereka, dan agama Allah (Islam) tidak mengenal suap”.

 

Di dalam ayat Al-Quran memang tidak disebutkan secara khsusus istilah sogokan atau risywah. Namun Imam al-Hasan dan Said bin Zubair
menafsirkan ungkapan Al-Quran yaitu `akkaaluna lissuhti` sebagai risywah atau sogokan. Mereka itu adalah orang-orang yang suka men-dengar berita bohong, banyak me-makan yang haram (QS Al-Maidah 42). Kalimat `akkaaluna lissuhti` secara umum memang sering diter-jemahkan dengan memakan harta yang haram. Namun konteksnya

menurut kedua ulama tadi adalah memakan harta hasil sogokan atau risywah. Jadi risywah (suapmenyuap) identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah SWT.

 

Mengenai sangsi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menetapkan sanksi atas pelaku korupsi dengan dicambuk dan ditahan dalam waktu lama dan  dengan mengambil harta yang dicurigai sebagai hasil korupsi. Dan Untuk membuktikan korupsi itu, Khalifah Umar bin al-Khaththab juga telah mencontohkan asas pembuktian terbalik. Intinya, pejabat atau pegawai yang dicurigai korupsi harus membuktikan bahwa hartanya dia peroleh secara sah.

 

Penerapan hukum itu tidak terbatas pada diri pejabat atau pegawai itu saja, tetapi juga bisa dikenakan kepada keluarga dan kenalan (kolega) mereka. Semua yang dilakukan oleh Khalifah Umar itu diketahui oleh para Sahabat dan tidak ada yang mengingkarinya. Dengan kata lain, ini menjadi ijmak sahabat, dan dibenarkan secara syar’i.

Untuk itu harta pejabat sebelum menjabat dicatat dan dihitung saat selesai masa jabatannya. Jika ter dapat harta yang tak jelas/tak bisa dipertanggungjawabkan, harta itu disita dan dimasukan ke kas negara.

 

Begitulah islam mengatur kehidupan bernegara yang bersih dari korupsi, suap, dan penyalah gunaan tugas dan jabatan. Setidaknya itulah yang seharusnya di terapkan dinegara yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini. Namun fakta berkata lain, minggu ini kita disuguhkan pada reality show dengan skenario tingkat tinggi mengenai suap dan korupsi. Menurut para pengamat, hal ini adalah fenomena gunung es kasus korupsi yang terjadi dinegeri tercinta ini. Hal ini terjadi Meskipun sebagai mana dikemukakan di atas, Syariah Islam secara tegas mengharamkan korupsi dan menilainya sebagai harta ghulûl; harta yang diperoleh secara curang, dan pelakunya akan diazab pedih di akhirat.  Allah SWT berfirman: Siapa saja yang berbuat curang pada Hari Kiamat akan datang membawa hasil kecurangannya (QS Ali Imran [3]: 161).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s