Hak Asasi Makhluk (HAM)

Kemarin diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Yang sering kita dengar bahwa Barat selalu mengklaim konsep HAM (Hak Asasi Manusia) berasal Magna Carta (Piagam Besar). Magna Carta adalah Piagam Inggris pada 1215 yang membatasi kekuasaan Monarki Inggris, terutama Raja John, dari kekuasaan absolut. Magna Carta adalah hasil dari ketidaksetujuan antara Paus dan Raja John dan baronnya atas hak raja: Magna Carta mengharuskan raja untuk membatalkan beberapa hak dan menghargai beberapa prosedur legal, dan untuk menerima bahwa keinginan raja dapat dibatasi oleh hukum.

Sejatinya Magna Carta baru lahir setelah enam abad Islam menyebar di muka bumi. Sebenarnya pula orang-orang Barat tak mengenal konsep HAM dan hak kewarganega-raan sebelum abad ke-17. Konsep HAM dan hak kewarganegaraan di Barat, baru muncul pada akhir abad ke-18 dalam proklamasi dan kon-stitusi Amerika dan Prancis. Pada pertengahan abad ke-20, tepatnya pada Desember 1948 – Perserikatan

Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian men-deklarasikan Universal Declaration of Human Rights (UDHC) atau Deklarasi Universal HAM. ”Hak-hak yang berikan dalam secarik kertas, pada kenyataan nya tak berlaku demikian dalam kehi-dupan nyata,” Buktinya Barat kerap kali menegakkan HAM dengan cara menyerang dan membunuh sesama manusia lain yang tak berdosa.

Islam adalah agama yang menghor-mati dan menghargai HAM. Sebagai pembawa kabar gembira dan ajaran Islam, sejatinya Nabi Muhammad SAW adalah seorang pejuang pembela HAM teragung. Simaklah kembali pesan terakhir Rasulullah SAW ketika Haji Wada (haji perpisahan) pada hari kedelapan Dzulhijjah. Sebuah pesan yang begitu menghargai HAM dan hak wanita.

”Wahai manusia! Sesungguhnya kamu semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit serta bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa,” sabda Rasul SAW. Kemudian Rasul pun melanjut kan sabdanya, ”Wahai umatku! Kamu berhak atas diri kamu dan isteri-isteri kamu dengan penuh kasih atas diri kamu. Perlakukanlah isteri-isteri kamu dengan penuh kasih sayang. Sesungguhnya kamu telah meng-ambil mereka atas hak Allah dan halal bagi kamu atas nama Allah.

Jauh sebelum Barat melalui agen HAM-nya berkoar-koar mengenai hak perempuan, 14 abad lalu Islam telah mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk menghargai dan menghormati seorang wanita. Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, ”Siapa yang paling berhak untuk aku hormati, ya Rasul? Rasullullah menjawab: ”Ibumu!” Lelaki itu turut kembali bertanya: ”Lalu siapa lagi?” Baginda menjawab ”ibumu”. Lalu siapa lagi? ”Ibumu,” jawabnya. Lalu siapa lagi? ”Bapakmu!”

Bahkan banyak teladan-teladan dari salafu sholeh mengenai HAM, tidak hanya Hak asasi Manusia, tapi juga hak asasi Tumbuh-tumbuhan, hak asasi binatang bahkan sesama makhluk Allah yang lain. Mengenai hak asasi Tumbuhan bisa kita simak berikut ini: Brandal Loka jaya menatap tanpa berkedip. Dari balik semak-semak tampak olehnya sebatang tongkat bertahtakan emas berkilau dibawa oleh seorang yang telah menginjak usia senja. “Kesem-patan baik,” pikir si Lokajaya yang kelak bergelar Sunan Kali Jaga.. Tanpa menunggu lama, ia keluar dari persembunyiannya dan segera me-rampas tongkat yang dibawa orang tua tadi. Tak ayal, begitu tongkat direbut orang tua tersebut jatuh tersungkur menyentuh bumi. Ia menangis. Ya, ia menangis. Loka jayapun tertegun.Ia sungguh tak menyangka perbuatannya yang di lakukan demi membela kaum papa ternyata telah membuat seorang yang tua yang seharusnya ia hormati menangis. Tersentuh, iapun me-ngembalikan tongkat tersebut ke-pada pemiliknya seraya berkata, “Kek, nggak usah menangis. Ini tongkat nya kukembalikan. Saya mohon maaf.” Apa jawaban sikakek itu yang tak lain adalah Sunan Bonang? “Nak, aku menangis bukan karena tongkat butut itu engkau rebut. Aku menangisi rumput di bawahku yang tercabut ketika aku tersungkur padahal aku tidak berniat memanfaatkannya. Aku bersedih rumput ini harus mengakhiri “hidupnya” dengan sia-sia.”

Mengenai hak asasi binatang, kita teringat cerita tatkala Imam al-Ghazali ditanya sebagian muridnya dalam perjumpaan lewat mimpi, “Ya Syeikh, Apa yang menyebabkan Engkau masuk surga dan mendapat derajat tinggi di sisi Allah ?” al-Ghazali menjawab, “Anakku, aku masuk surga bukan karena amalku qiyamullail, berdakwah, atau menyu-sun kitab. melainkan suatu hari seekor lalat hinggap di ujung penaku ketika aku hendak menulis.Kubiarkan lalat itu minum dan menghisap air tintaku. Itulah yang membuat aku masuk surga.”

Islam juga mengenal hak asasi jin. Pada banyak kitab kuning ketika membahas istinjak (cewok) disebut kan bahwa boleh istinjak dengan batu jika tidak ditemukan air akan tetapi haram hukumnya istinja’ dengan tulang karena ia adalah makanan jin. Wallahu A’lam

One response to “Hak Asasi Makhluk (HAM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s