Dahsyatnya Hijrah

Peribahasa Arab mengatakan “ Waktu laksana pedang, jika kau tidak mampu mengendalikan waktu, maka kamu akan terbunuh olehnya “.  Tepat satu tahun telah berlalu dari kehidupan dengan kesusesan dan kegagalan, dengan semangat dan kemalasan, dengan ibadah dan maksiat, dengan sikap positif dan negatif. Satu harapan kita, mudah2an di tahun yang baru ini, sifat-sifat  negatif kita tinggalkan dan kita menjadi muhajir sejati (orang yang berhijrah) sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul saw yang diriwayatkan Imam Bukhari

dari Amr bin Ash RA, yaitu:

المهاجر من هاجر ما نهى الله عنه

artinya: orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT”

Tahun Hijriah, ditetapkan pertama kali oleh Kholifah Umar bin Khotob ra, sebagai jawaban atas surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Kholifah Umar menetapkan Tahun Hijriah untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia, kalender Romawi, dan kalender-kalender lain yang

berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Kholifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai kalender Islam, karena Hijrah Rosululllah saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan persitiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah. Prof. Fazlu Rahman menye-but Hijrah sebagai marks of the beginning of Islamic calendar and the founding of Islamic community. (simbol permulaan kalender islam dan pembangunan masyarakat islam). Oleh karenanya, penting mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa Hijrah ini.

Dalam kitab At-ta’rifat, Al-Jurjani mendefinisikan Hijrah sebagai :

ترك الوطن الذي بين الكفار والانتقال إلى دار الإسلام

Meninggalkan negeri yang dikelilingi oleh orang kafir dan berpindah menuju negeri islam, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dan Hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Rasyid Ridho, harus dengan sebenar-benarnya. Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan

sebenar-benarnya. Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menegakkan agama-Nya yang merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.

Dalam sejarah, ada seorang sahabat yang berhijrah karena ingin menikahi ummu Qois, bukan karena niat ikhlas taat kepada Allah dan Rosulnya. Maka Rosulullah saw bersabda : “Bahwasannya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwa-sannya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia ia akan mendapatkannya, atau karena wanita maka ia menikahinya maka hijrahnya itu hanya mem peroleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu.

Bahkan ada pula yang enggan berhijrah bersama Rosulullah dari Makkah ke Madinah. Mereka tidak

mau mengerti akan makna hijrah sebagaimana yang dilaksanakan Rosulullah dan para sahabatnya yang setia dan taat. Mereka mengira bisa melakukan siasat dan strategi sendiri dengan cara menyembunyikan ke islamannya dengan tetap bergabung bersama-sama kafir Qurasy. Padahal Allah dan rosulNya telah me-merintahkan hijrah. Maknanya adalah ketaatan terhadap Allah dan rosulNya, adalah kewajiban yang harus dijalankan, bukan suatu pilihan.

Mereka adalah lima orang pemuda muslim yang bergabung dengan kafir Makkah, lalu mati mengenaskan di perang badar oleh pasukan kaum muslimin. Tempat mereka adalah neraka jahannam sebagaimana firman Allah dalam QS: An-nisa : 97. Rasul saw bersabda :

“مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ أَوْ سَكَنَ مَعَهُ، فَهُوَ مِثْلُهُ

Barang siapa yang berkumpul dengan orang musyrik atau tinggal bersamanya, maka ia sama dengan nya (dalam tafsir ibnu katsir)

Hijrah identik dengan perjuangan

Dan  pengorbanan sebagai wujud ke cintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, lebih tinggi daripada cintanya kepada diri sendiri. Lihatlah, Ali bin Abi Tholib, Beliau meng gantikan tempat tidur Rasul ketika malam itu beliau berangkat Hijrah dengan segala konsekuensinya. Sedangkan Abu Bakar, Beliau menyertai Rosul dalam perjalanan hijrah, Ia beralasan : “Jika aku terbunuh, maka aku hanyalah se orang manusia, namun jika engkau yang terbunuh, maka umat tentu akan binasa.

Setelah hijrah, perkembangan dak- wah Islam begitu pesat. Sebagai gambarannya, periode Makkah ibarat menarik tali busur ke belakang sebagai ancang-ancang , sedangkan periode Madinah bagaikan anak panah lepas dari tali busurnya. Dakwah Islam menyebar ke segala penjuru dunia. Tidak hanya Jazirah Arab, Syam dan Yaman. Tapi sampai ke Persia dan Romawi. Afrika dan Eropa, dan akhirnya sekarang islam menguasai dua pertiga wilayah dunia. Inilah wujud dari janji Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s