Sulthanul Awliya’

Edisi : 341. Gelar tersebut (pemimpimpin para wali) dialamatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Sungguh gelar yang luar biasa bukan karena bergelimang harta dan kursi basah, tapi karena sifat-sifat kebaikan dan keperibadian serta keteladanan yang diberikannya kepada kita. Telah menjadi tradisi kita untuk membaca manaqibnya setiap bulan atau pada momen tertentu dengan harapan Mudah-mudahan kita semua bisa mengikuti jejak ibadah nya, akhlaqnya, perilakunya, dakwahnya, keperibadiannya, dan juga semua tingkah laku Beliau yang Mendatangkan keberuntungan dunia akhirat. Habib Umar bin Hafidz Hadramaut pernah berkata: “Orang yang sering mendengar perjalanan hidup seorang Waliyullah, maka ia akan mendapat rahmat Allah dan barokah darinya, dan orang yang serin bergaul dengan orang Sholih bagaimana tidak mugkin menjadi orang Sholih, Orang yang sering bergaul dengan orang yang tidak Sholih bagaimana mungkin dia akan menjadi orang Sholih”.

Berikut ini, saya mengutip isi manaqib beliau “an-nurul-burhani” :

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan di desa Jilan, kota terpencil di luar kota Tobaristan, pada tanggal 01 Ramadlan tahun 470 Hijriyah berketepatan dengan tahun 1077 Masehi. Sayyi-datuna Fatimah (Ibunda Syaikh Abdul Qadir) pernah bercerita; “Semenjak aku melahirkan anakku itu (Abdul Qodir), ia tidak mau menetek (me-nyusu) pada siangnya bulan Roma-dhon. Suatu kali, lantaran hari ber awan, orang-orang bingung tidak bisa melihat matahari guna menen-tukan telah masuknya berbuka puasa, lalu mereka mendatangiku dan bertanya tentang Abdul Qadir, karena mereka tahu bahwa anakku itu tidak pernah menetek (menyusu) di siang nya bulan Romadlon. Aku katakan kepada mereka, bahwa Abdul Qadir sekarang sudah mau menyusu, Maka mereka pun tahu bahwa sudah masuknya waktu berbuka puasa”.

Sewaktu riyadloh (Tirakat), Beliau ter tidur di emperan istanah Raja Madani dimalam yang sangat dingin, tiba-tiba Beliau mimpi keluar mani, seketika bangunlah Beliau lalu pergi ke sungai untuk mandi. Kemudian tertidur lagi dan bermimpi seperti yang pertama.

Bangunlah Beliau dan pergi ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, kejadian itu sampai empat puluh kali semalam itu juga. Kemudian Beliau naik diatas pagar tembok emperan agar tidak tertidur lagi demi menjaga kelangge-ngan suci dari hadats. Kebiasaan Beliau bila berhadats terus berwudlu’ lalu sholat sunnah dua roka’at, sehingga senantiasa suci dan tidak pernah menanggung hadats.

Tiada henti-hentinya Syaikh Abdul Qadir dalam kesungguhannya men jaga wudlu’, bahkan hal yang demi-kian itu menjadi kebiasaan sampai ketingkat wusul kepada Allah SWT. Nampak jelas pancaran Nur kewalian nya sehingga nampak pula di wajahnya cemerlang sifat keluhur an, menghindari segala apa yang harus dihindari, bahkan pernah ber pura-pura bisu, gila, sampai berkali-kali dibawa ke kota Marostan untuk diobati, yang demikian itu, malah membuat tersohor kewaliannya me-lebihi Ulama’ yang lain. Dibidang ilmu dan amalannya, zuhud dan ma’rifat nya, ketokohan dan fatwa-fatwanya dapat diterima siapa saja yang mendengarkannya, sehingga nama

baiknya tersebar dimanca negara bagaikan peredaran matahari.

Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Fatah al-Harowi mengatakan: “Saya menjadi pelayannya Syaikh Abdul Qadir RA. selama empat puluh (40) tahun, Beliau selama itu, bila sholat Subuh masih menggunakan wudlu’nya sholat isya’. Kalau berhadats segera memperbarui wudlu’nya, kemudian mengerjakan sholat sunnah dua rokaat”.

Syaikh Muhammad bin Abdil Fatah berkata: Pada suatu ketika Syaikh Abdul Qadir melihat seberkas cahaya berkilauan menerangi ufuk langit, tidak lama menampakkan diri seraya memanggil-manggil: Wahai Abdul Qodir……… aku adalah tuhanmu, sungguh aku perbolehkan untukmu semua yang diharamkan. Maka Beliau menjawab: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Menyingkirlaaah Wahai Mahluq yang dilaknati”.Seketika itu juga cahaya tersebut berubah menjadi gelap dan sosok itu menjadi asap lalu berteriak: Wahai Abdul Qodir ………, Selamatlah engkau dari

ulah sesatku, sebab ilmumu tentang hukum Tuhanmu dan karena pema-hamanmu tentang kedudukanmu, sungguh aku sudah menyesatkan seperti kejadian ini dari tujuh puluh (70) ahli ibadah. Setelah Beliau selamat dari godaan setan, kemudian Beliau memuji kepada Allah SWT dengan mengucapkan: “Anugerah dan keselamatan hanya karena Tuhanku”. Ada sebagian santri Beliau yang bertanya tentang hal itu: Bagai mana Anda bisa mengetahui sesungguh nya dia adalah setan? Beliau menjawab: Aku mengetahui nya ”Dari ucapannya: “telah aku perbolehkan untukmu apa yang diharamkan” karena setahu saya sungguh Allah SWT tidak akan me merintahkan untuk berbuat ke kejian”.

Pada poin terakhir ini, banyak dari yang mengaku wali kemudian ia me-nganggap halal apa yang diharamkan oleh Allah sehingga banyak orang menjadi awliya’us syaithon dari pada menjadi awliya’ur rohman (waliyul-loh yang sebenarnya). Maka syetan telah menipu tidak hanya ahli maksiat tapi juga ahli ibadah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s